DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Pentingnya Memahami Kebutuhan Emosional Anak

Kamis, 19 Juli 2012

Pentingnya Memahami Kebutuhan Emosional Anak
Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari bahwa anak dan remaja lebih dikendalikan oleh emosi-emosi mereka daripada pemikiran rasional dan logis. Emosi ini menjelaskan mengapa anak dan remaja berperilaku demikian, termasuk perilaku yang merusak diri sendiri. Jadi jika kita ingin memotivasi mereka, sebaiknya kita pahami lebih dulu emosi yang mengendalikan mereka dan memanfaatkannya untuk mengarahkan perilaku dan pemikiran yang lebih memperdayakan.
Berikut adalah ketiga kebutuhan emosional anak:
1. Kebutuhan untuk merasa AMAN
Salah satu kebutuhan terkuat yang dibutuhkan soerang anak adalah perasaan aman. Aman didalam diri dan lingkungannya. Remaja mencari rasa aman dengan bergabung dengan sekelompok “geng” atau sekumpulan teman sebaya mereka, terlibat aturan sosial diantara mereka, serta meniru perilaku temannya.
Seorang psikolog Dr. Gary Chapman, dalam bukunya “lima bahasa cinta” mengatakan kita semua memiliki tangki cinta psikologis yang harus diisi, lebih tepatnya jika anak maka orangtuanya yang sebaiknya mengisi. Anak yang tangki cintanya penuh maka dia akan suka pada dirinya sendiri, tenang dan merasa aman. Hal ini dapat diartikan sebagai anak yang berbahagia dan memiliki “inner” motivasi.
Perlukah kita mempelajari dan mengetahui tangki cinta? Sangat perlu, saya seringkali merekomendasi paraguru dan orangtua untuk mempelajari dan menemukan bahasa cinta anak mereka, dirinya dan pasangannya. Hal ini akan saya bahas pada artikel berikutnya).
Contoh, terdorong oleh rasa cinta kepada anaknya seorang ibu memarahi anaknya yang sedang bermain computer. “berhenti maen computer dan belajar sekarang” lalu apa yang ada dibenak anak? Mungkin“Hmpf… Ibu tidak sayang padaku, dan ingin mengendalikan aku serta keasyikanku” Nah, anak menerimanya sebagai hal yang negatif, komunikasi yang menghancurkan rasa cinta ini biasanya yang menjadi akar permasalahan orangtua dan anak, serta guru.
“Mencintai anak tidak sama dengan anak merasa dicintai”
Apa yang menyebabkan kebutuhan akan rasa aman tidak terpenuhi?
• Membandingkan anak dengan saudara atau orang lain
Ketika kita mengatakan “mengapa kamu tidak bisa menjaga kebersihan kamar seperti kakakmu”, “kenapa kamu tidak bisa menulis serapi Rudi”. Akan tumbuh perasaan ditolak, tidak diterima, mereka akan berpikir “papa/mama lebih suka dengan…” hal ini menumbuhkan sikap tidak suka dengan dirinya sendiri dan ingin menjadi orang lain. Mereka merasa aman dengan menjadi orang lain, bukan merasa aman dan nyaman menjadi dirinya sendiri.
• Mengkritik dan mencari kesalahan
Ketika kita mengatakan: “dasar anak bodoh, apa yang salah denganmu? Kenapa kamu tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar?”
Dapat dipastikan, akan menimbulkan perasaan dendam, tidak ada rasa aman dilingkungan rumah (jika hal ini sering terjadi dirumah).
• Kekerasan fisik dan verbal
Saya rasa tidak perlu dijelaskan lagi, hal ini sudah banyak kita temui di surat kabar dan berita ditelevisi, dan bahayanya atau akibatnya juga sering kita temui di media tersebut. Jika tidak ada rasa aman dalam rumah, maka seorang anak akan mencari perlindungan untuk memenuhi rasa aman mereka disemua tempat yang salah. Dan anak akan melakukan apa saja untuk mendapatkan rasa aman ini, mencari perhatian dengan cara yang salah.
2. Kebutuhan akan pengakuan (merasa penting) dan diterima atau dicintai
Jarang sekali orangtua membuat anak-anak mereka merasa penting dan diakui dirumah. Sebaliknya banyak orangtua yang membuat anak mereka merasa kecil dan tidak berarti dengan ancaman: “lebih baik kerjakan PR-mu sekarang, atau…”
Apa yang ada dalam pikiran anak jika diperlakukan seperti itu? Kita orangtua justru senang jika anak melakukan hal yang kita perintah, tapi yang ada dipikiran anak adalah mereka merasa kalah dengan melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan cara seperti itu. Sehingga banyak anak yang menunda atau tidak mengerjakan apa yang ditugaskan orangtua (bahkan dengan ancaman sekalipun) untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya akan pengakuan.
Peringatan keras bagi orangtua: Jika anak-anak tidak merasa dicintai dan diterima oleh orangtua, mereka akan terdorong untuk mencarinya disemua tempat yang salah.
Keinginan seorang anak untuk diakui dan ingin dicintai begitu kuat, sehingga mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Jika mereka tidak mendapat pengakuan dengan cara yang benar maka akan menemukan dengan cara yang salah dan ditempat yang salah. Kebutuhan ini mendorong beberapa anak dan remaja untuk menggunakan tato, mengganggu anak lain, bergabung dengan geng pengganggu, mengecat rambut dengan warna menyolok, bertingkah laku seperti badut dan pelawak. Hal ini umumnya menyusahkan mereka sendiri, tetapi demi mendapatkan pengakuan dan diterima (mendapatkan perhatian).
Ada kasus ekstrim pada 16 april 2007, seorang siswa US Virginia Tech, Cho Seng-hui. Menembak dan menewaskan 32 siswa. Apa yang mendorong perilaku tersebut, sehingga dia melakukan hal yang begitu luar biasa gila? Dia melakukan hanya karena kebutuhan pengakuan dan rasa pentingnya begitu besar, tetapi tidak terpenuhi oleh orang-orang yang mengabaikannya dan menghinanya. Hal itu memaksanya keluar dari dunia logika dan merenggut nyawa orang lain serta dirinya sendiri, dalam pikirannya dia berpikir lebih baik mati bersama nama buruk dari pada hidup bukan sebagai siapa-siapa.
3. Kebutuhan untuk mengontrol (merasa mandiri atau keinginan untuk mengontrol)
Seiring pertumbuhan anak, sembari mencari identitas diri dan sambil belajar membangun kemandirian dari orangtua. Proses ini menciptakan kebutuhan emosional untuk bebas dan mandiri.
Jadi itu sebabnya anak tidak mau didikte untuk apa yang harus dilakukan. Mereka merasa tidak “gaul”mendengarkan orangtua. Dengan mendengarkan nasihat orangtua mereka seakan diperlakukan seperti anak kecil. Ini menjelaskan mengapa anak lebih mendengarkan teman mereka dan om atau tante (paman atau bibi) yang masih muda dari pada orangtuanya sendiri.
Orangtua yang cerdas, tidak akan menyerah menghadapi hal ini. Bagaimana caranya memberikan arahan dan agar anak mau mendengar orangtua? Gunakan komunikasi yang tidak bermaksud memaksa anak dengan nasihat kita. Buatlah seakan-akan mereka belajar dan bekerja keras untuk diri mereka sendiri bukan untuk kita. mereka akan lebih bersemangat dan termotivasi dengan cara seperti itu. Dan yang terpenting adalah memenuhi tangki cinta anak kita setiap hari dan memastikan selalu penuh saat bangun anak bangun tidur dan menjelang tidur. Dengan begitu anak tahu siapa yang paling mengerti dan sayang, serta kepada siapa dia akan datang pada saat membutuhkan seseorang untuk mendengar, yaitu kita orangtuanya.
Ambilah manfaat dari informasi ini, kenali kebutuhan emosi anak kita. Pekalah dimana saat anak membutuhkan penerimaan, kebutuhan untuk mengontrol sesuatu, serta butuh untuk aman. Gunakan kata-kata yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, berikut tips dan cara memenuhi kebutuhan emosi dasar seorang anak:
1. Rasa aman:
• Tenang sayang kamu aman bersama papa, mama akan temani kamu, hey… papa disini bakal jaga kamu sayang
2. Rasa penerimaan atau dicintai:
• Biasakan menatap mata saat berbicara pada anak, usahakan tatapan mata adalah datar atau “mata sayang”
• Sentuh bagian bahu saat berbicara atau bagian manapun asal sopan, untuk menunjukan bahwa kita ada bersama dan dekat dengan anak
• Usahakan sejajar (berdiri sejajar dengan anak atau berlutut)
• Katakan: apapun yang terjadi papa/mama tetap sayang sama kamu, kamu tetap jagoan papa/mama, dimata papa/mama kamulah yang paling cantik
3. Kebutuhan untuk mengontrol:
• Jika memungkinkan, jika anda melihat anak anda perlu untuk melakukan sesuatu sendiri maka ijinkanlah
• Sebenarnya itu adalah proses belajar untuk dirinya sendiri dan akan sangat bermanfaat dimasa dewasa
• Harga diri anak akan semakin tinggi, jika kita rajin memberikan kontrol kepada anak, karena anak merasa mampu melakukan kegiatan tanpa bantuan (tentunya kegiatan yang aman sesuai dengan kebijaksanaan orangtua)
• Luangkan waktu khusus untuk beraktivitas dan memberikan kontrol dan mengawasinya dengan kasih sayang, misal: anak umur 2-3 tahun minta makan sendiri, pergi ke sekolah sendiri, dan lain-lain

PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL

Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat.

Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang - menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?

Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.

PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL
Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama.

Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini.

Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).

Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan ("bangsat") dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.

Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.

Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.

Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai PT sang pendidik harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini.

Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau menginginkan generasi seperti diatas.

Selain itu, anggaran pendidikan yang tinggi belum tentu akan mengubah dengan cepat kondisi pendidikan kita saat ini. Malah anggaran yang tinggi akan menimbulkan KKN yang lebih lagi jika tidak ada kontrol yang ketat dan moralitas yang tinggi dari penguna anggaran tersebut. Dengan anggaran sekitar 6% saja KKN sudah merajalela, apalagi 20-25%.

Ketiga, Berlaku adil dan Hilangkan perbedaan. Ketika saya masih di SD dulu, ada beberapa guru saya sangat sering memanggil teman saya maju kedepan untuk mencatat dipapan tulis atau menjawab pertanyaan karena dia pintar dan anak orang kaya. Hal ini juga berlanjut sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Yang saya rasakan adalah sedih, rendah diri, iri dan putus asa sehingga timbul pertanyaan mengapa sang guru tidak memangil saya atau yang lain. Apakah hanya yang pintar atau anak orang kaya saja yang pantas mendapat perlakuan seperti itu.? Apakah pendidikan hanya untuk orang yang pintar dan kaya? Dan mengapa saya tidak jadi orang pintar dan kaya seperti teman saya? Bisakah saya jadi orang pintar dengan cara yang demikian?

Dengan contoh yang saya rasakan ini (dan banyak contoh lain yang sebenarnya ingin saya ungkapkan), saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional kita telah berlaku tidak adil dan membuat perbedaan diantara peserta didik. Sehingga generasi muda kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana berlaku tidak adil dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau kelas akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta didik, orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum tentu memang unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena KKN. Yang tidak masuk kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul otaknya tapi karena dananya tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi, yang sibuk bukan peserta didik, tapi para orang tua mereka mencari jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk kelas tersebut.

Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa menumbuhkan peserta didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan bertanggungjawab. Jangan hanya mengadopsi sistem bangsa lain yang belum tentu cocok dengan karakter bangsa kita. Karena itu, pembukaan kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau kembali kalau perlu hilangkan saja.

Contoh lain lagi , seorang dosen marah-marah karena beberapa mahasiswa tidak membawa kamus. Padahal Dia sendiri tidak pernah membawa kamus ke kelas. Dan seorang siswa yang pernah belajar dengan saya datang dengan menangis memberitahu bahwa nilai Bahasa Inggrisnya 6 yang seharusnya 9. Karena dia sering protes pada guru ketika belajar dan tidak ikut les dirumah guru tersebut. Inikan! contoh paling sederhana bahwa pendidikan nasional kita belum mengajarkan bagaimana berlaku adil dan menghilangkan Perbedaan.

PEJABAT HARUS SEGERA BERBENAH DIRI DAN MENGUBAH PERILAKU
Kalau kita menginginkan generasi penerus yang bermoral, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Maka semua pejabat yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif harus berbenah diri dan memberi contoh dulu bagaimana jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok kepada generasi muda mulai saat ini.

Karena mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan dan tidak sedikit pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli obral). Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim pendidikan nasional selama ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan bahwa mereka orang yang berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong dan curang. Apabila tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung mereka (pejabat) sudah memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan salahkan jika generasi mudah saat ini meniru apa yang mereka (pejabat) telah lakukan . Karena mereka telah merasakan, melihat dan mengalami yang telah pejabat lakukan terhadap bangsa ini.

Selanjutnya, semua pejabat di negara ini mulai saat ini harus bertanggungjawab dan konsisten dengan ucapannya kepada rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan terhadap mereka mau dibawah kemana negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat kita, lain dulu lain sekarang. Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji kepada rakyat, nanti begini, nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung kepentingan rakyat. Dan setelah diangkat, lain lagi perbuatannya. Contoh sederhana, kita sering melihat di TV ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak yang kosong atau ada yang tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal mereka sudah digaji, bagaimana mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Kalau ke kantor hanya untuk tidur atau tidak datang sama sekali. Atau ada pengumuman di Koran, radio atau TV tidak ada kenaikan BBM, TDL atau tariff air minum. Tapi beberapa minggu atau bulan berikutnya, tiba-tiba naik dengan alasan tertentu. Jadi jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?

Harapan
Dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.

Tapi para pemimpin bangsa ini tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan saja. Karena itu, mulai sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi hingga terendah di legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera menghentikan segala bentuk petualangan mereka yang hanya ingin mengejar kepentingan pribadi atau kelompok sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara. Sehingga generasi muda Indonesia memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini kedepan.
Sumber: http://re-searchengines.com/amukminin.html

Era Emas Spanyol, Mantab . . . . . .

Senin, 16 Juli 2012
KOMPAS.com  Bulan Juli penuh kejutan. Ditantang untuk melanjutkan dominasinya di Eropa dan dunia, tim Spanyol menjawabnya penuh keyakinan. ”La Furia Roja” menjawab dengan gelar juara Eropa 2012 setelah menjadi kampiun di Piala Dunia Afrika Selatan 2010 dan Piala Eropa 2008. Xavi dan kawan-kawan berada di puncak dunia.

Kejutan lain muncul. Brasil terdepak dari 10 besar tim terbaik FIFA. Turun enam anak tangga dari posisi kelima ke posisi 11 peringkat FIFA adalah prestasi terburuk lima kali kampiun piala dunia ini.

Sepak bola indah
Dua gelar terakhir yang diraih tim ”Matador” dalam enam tahun terakhir mengukuhkan mereka sebagai kekuatan baru sepak bola dunia. Penanda aras.

Di tangan Luis Aragones, Spanyol memulai perubahan dengan menerapkan tiki-taka, gaya bermain sepak bola yang diterapkan FC Barcelona. Pemain bertubuh mungil yang mampu mengolah bola di kaki dengan sangat lengket dan dalam jarak antarpemain yang rapat. Tanpa sadar, dengan umpan terobosan melalui sela-sela kaki dan mencetak gol ke gawang menjadi ciri khas tim Spanyol.

Vincente del Bosque di Polandia-Ukraina memoles dan mengubah gaya ini sedikit dengan meniadakan penyerang. Hanya ada Cesc Fabregas, gelandang serang FC Barcelona, yang berfungsi sebagai penyerang. Cap penyerang palsu pun tertuju ke Fabregas. ”False Nine”, begitu sebutannya.

Pelatih Brasil Mano Menezes, seperti diberitakan Reuters, mengakui kedigdayaan Spanyol saat ini. Namun, baginya, Brasil tidak perlu menjadi mesin fotokopi, menjiplak mentah-mentah gaya bermain Spanyol.

”Juara selalu menjadi penanda aras dan Spanyol melakukan hal itu. Brasil melakukannya pada masa lalu,” katanya.

Ya, jogo bonito, sebutan bagi gaya tim ”Samba”. Goyangan para pemain tim ”Samba” pada Piala Dunia 1982 menjadi salah satu bukti memikatnya jogo bonito. Variasi umpan pendek dan umpan lambung dibumbui kemampuan menggiring bola disisipi atraksi juggling bola ditambah permainan terbuka membuat gaya itu sedap dipandang mata.

Mantan pelatih klub Gremio dan Corinthians ini menyatakan, mereka tidak akan meniru gaya Spanyol. ”Permainan kami selalu menyertakan penyerang dan dalam budaya Brasil, para penggemar ingin melihat mereka di lapangan,” katanya.

Yang harus dipelajari, lanjut Menezes, adalah cara menghadapi Jordi Alba dan kawan-kawan, bukan meniru gaya permainan mereka. Publik menunggu bukti janji Menezes jika kedua tim bertemu di Olimpiade 2012

Layangan Maut Pembunuh Anak Kecil


KOMPAS.com — Sehari pasca-kematian tragis Gede Yudis Sastrawan, bocah 8 tahun yang tewas setelah tertimpa layangan raksasa saat Festival Layang-Layang di Pantai Padang Galak, Denpasar, Minggu (15/7/2012) lalu, foto detik-detik saat layangan maut tersebut jatuh pun beredar.
Seperti yang ditampilkan melalui Blackberry Messenger ini, tampak sebuah layang-layang raksasa jenis bebean jatuh menukik menimpa sejumlah penonton.
Keaslian foto masih belum diketahui karena sampai saat ini penyebar pertama foto tersebut juga belum diketahui. Layangan yang berukuran sekitar 8 x 5 meter itu diduga jatuh akibat minimnya angin.
Sejak hari pertama pada Jumat lalu, puluhan layangan raksasa yang diterbangkan untuk mengikuti lomba juga mengalami kendala minimnya angin sehingga saling bergantian jatuh ke bibir Pantai Padang Galak.
Aparat Polsek Denpasar Timur sampai saat ini masih menyelidiki kasus tewasnya bocah malang tersebut.
"Lima saksi dari penonton dan warga sedang kami periksa. Panitia belum. Penyelidikan masih berlanjut," ujar Kepala Polsek Denpasar Timur Ajun Komisaris Wayan Parwata, Senin (16/7/2012).
Seperti diberitakan, festival layang-layang di Pantai Padang Galak, Denpasar, yang digelar selama 3 hari, mulai Jumat (13/7/2012) hingga Minggu lalu berujung musibah. Gede Yudis Sastrawan, bocah 8 tahun yang menonton festival layang-layang bersama ibunya, tertimpa layangan bebean dan meninggal setelah sempat dirawat di RSUP Sanglah, Denpasar.

10 Hal yang terpampang di Facebook

Selasa, 10 Juli 2012
Jakarta:Facebook, jejaring sosial terbesar di dunia, kini menjadi mesin pencarian identitas. Baik dari perusahaan, pengintai, maupun aparat hukum. Tak lupa peretas yang ingin membuat identitas palsu. Wahai pemilik akun di jejaring besutan Mark Zuckerberg, perhatikan 10 hal terlarang untuk muncul di Facebook.

1. Tanggal lahir

Mengungkap tanggal lahir itu berbahaya. Sebab institusi keuangan biasanya membutuhkan informasi tanggal lahir untuk kartu kredit atau pernyataan di bank. Membiarkan tanggal lahir terlihat, sama saja membuka pintu untuk pencurian identitas.

2. Nama tengah Ibu

Ingat banyak situs yang menggunakan jawaban nama tengah sebagai pertanyaan keamanan untuk mengingat kata kunci. Waspadalah apa yang anda tulis tentang Ibu di dunia maya

3.Alamat rumah

Tidak perlu membagi informasi ini dengan teman, kenalan atau mantan rekan kerja. Pencuri sekarang juga tahu cara menggunakan Facebook. Apalagi jika Anda menulis status sedang bepergian sekeluarga, sudah tinggal tunggu masa saja isi rumah dikuras si penjahat ini.

4. Status pergi dari rumah dalam waktu lama

Menulis status pergi dari rumah dalam jangka waktu lama berarti mengumbar informasi kepada dunia maya bahwa rumah Anda kosong. Jika Anda memang harus mempublikasikan status ini, maka bisa ditambahkan bahwa ada penjaga, anjing atau alarm pencuri di rumah.

5. Status pergi dari rumah dalam waktu singkat

Meski cuman singkat, kalau Anda terus-terusan menulis check-in di tempat yang berada di luar rumah, pencuri tentu awas kalau kediaman Anda kosong.

6. Foto tak sopan

Anda mungkin sudah membaca bahwa ada orang yang kehilangan pekerjaan karena mereka bersikap rasis atau menampilkan foto yang tak sopan di dunia maya. Jadi jangan lakukan!

7. Mengeluh atau marah

Jangan bilang ke Facebook atau Twitter jika Anda marah kepada bos, mengaku mabuk, dan memiliki obat-obatan terlarang. Atau mengaku pura-pura sakit.

Screenshoot status Anda bisa jadi bukti yang membahayakan reputasi, klien dan nasib profesi. Di Singapura, bahkan remaja yang menulis status berbau rasis bisa ditangkap. Di bawah UU Penghasutan, siapa pun yang terbukti bersalah menyebarluaskan kebencian antar ras atau kelas dalam populasi di Singapura dapat di denda 5 ribu dolar Singapura (Rp 37 juta) dan penjara maksimal tiga tahun.

8. Nomor telepon

Memasang nomer telepon, maka dipastikan Anda akan dihubungi banyak telemarketer, pengintai dan temannya teman yang sok kenal.

9. Status hitung mundur jelang liburan

Lebih baik menulis status setelah liburan. Sebab kalau sebelum liburan beresiko diketahui penjahat yang sudah siap menguras isi rumah Anda selagi kosong.

10. Foto interior rumah

Mengunggah foto isi rumah Anda menjadi jalan mulus pencuri untuk menilai perabot yang Anda miliki

Pembelajaran dalam Bahasa Inggris

Learning English (Belajar Bahasa Inggris) bukan merupakan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Meskipun kita telah belajar bahasa Inggris hampir 12 tahun lamanya, yaitu 6 tahun di SD, 3 Tahun di SMP dan 3 tahun lagi di SMU/K, bahkan ditambah lagi di Universitas.

Tapi persoalnya, mengapa ya…? kita sudah belajar bahasa Inggris bertahun-tahun lamanya tapi tetap saja setelah lulus minimal SMU behasa Inggris kita tetap belepotan ga karuan. Apakah ada yang salah dalam penyampaian bahasa english di dunia pendidikan kita.

Salah seorang Guru bahasa Inggris, yakni Mr. Teguh Handoko Susilo, yang telah berpengalaman lebih dari 18 tahun dalam memberikan study english memberikan alasannya, bahwa hal ini disebabkan karena para siswa setiap hari dalam Learning English banyak dijejali dengan berbagai rumus – rumus grammar yang memang tidak mudah untuk dipelajari dan dihafalkan. Itulah yang terjadi didalam dunia pendidikan kita. Khususnya dalam Learning English. Sehingga mempelajari bahasa Inggris seperti mempelajari Ilmu Matematika yang penuh dengan rumus-rumus.

English Conversation, inilah seharusnya yang perlu diberikan penekanan kepada para siswa yang learning english. Mereka harus diberi pemahaman bahwa betapa pentingnya Speaking English dengan baik dan banar. Bukannya malah menghambur-hamburkan berbagai rumus-rumus grammar didalam english lesson. Karena yang terpenting adalah siswa bisa / mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan lancar dan dengan pronounciation yang baik dan benar, tanpa harus mengingat-ingat rumus-rumus gramar-nya.

Berpijak dari kenyataan tersebut, maka Mr. Teguh Handoko Susilo meluncurkan paket english online (belajar bahasa Inggris online) yang dinamakannya "e-Compusoft Online English Training" yang hingga saat ini telah ribuan orang terbantu dengan english course secara online seperti ini.

Hingga saat ini e-compusoft Online English Training telah menerbitkan materi untuk learning english level 1 dan 2, sgera menyusul Level 3.

Materi Level 1, terdiri dari 32 English Lesson berformat pdf dan audio MP3 dengan kualitas sangat baik. Dimana Level 1 ini akan menjadikan Anda mahir dalam english conversation karena materi Level 1 menggunakan metode Full Conversation.

Materi Level 2, terdiri dari 25 English Lesson berformat pdf dan audio MP3 dengan kualitas sangat baik. Dimana Level 2 ini ditujukan untuk mereka yang ingin meningkatkan nilai TOEFL-nya. Nilai TOEFL ini diperlukan bagi mereka yang ingin belajar di luar negera atau bekerja di luar negeri.

Materi Level 3, masih dalam proses pembuatan di lab bahasa e-compusoft online english training.

Jika anda tertarik dengan learning english dari online e-compusoft.org, kami telah menyediakan 5 Materi Gratis untuk anda pelajari terlebih dahulu sebelaum memutuskan untuk membeli paket lengkapnya yang terdiri atas 32 Materi tersebut.

Untuk mendapatkan 5 Materi gratis tersebut, anda bisa mendaftar di e-compusoft.orgdengan gratis disini: Daftar e-Compusoft online english training.

Setelah mendaftar, anda bisa login ke member area lalu klik link DOWNLOAD yang tersedia di Member area kami.

Atau Anda bisa mencobanya secara online disini: Contoh Level 1 Materi 1

Untuk mendapatkan Materi gratis learning english level 2 anda harus sudah menjadi Premium Member terlebih dahulu. Setelah upgrade ke Premium Member, anda akan kami berikan link untuk mendownload Materi gratis level 2.

Jadi seperti halnya Level 1, kami tidak ingin menjual kucing dalam karung. Jadi silahkan pelajari dahulu materi learning english yang kami jual, jika anda merasa bermanfaat untuk perkembangan kemajuan bahasa Inggris Anda, silahkan membeli paket lengkapnya yang semua tersedia lengkap di member area. Anda tinggal mendownloadnya saja.

Untuk mengetahui informasi lebih detail tentang Materi learning english Level 2, anda bisa melihat detailnya di: Materi Level 2

Jika anda suka dengan artikel learning english ini, pertimbangkan untuk berbagi dengan teman / kerabat anda. Silahkan klik salah satu atau ketiga gambar dibawah ini. Lalu ikuti saja petunjuknya

Mengenal Lebih Jauh, "NOUN" dalam istilah bahasa Inggris


A noun is a word used to name a person, animal, place, thing, and abstract idea. Nouns are usually the first words which small children learn. A noun can function in a sentence as a subject, a direct object, an indirect object, a subject complement, an object complement, an appositive, an adjective or an adverb.
Nouns can be further classified as countable nouns (which name everything that can be counted (four books, two continents, a few dishes, a dozen buildings), mass nouns or non-countable nouns) (which name everything that can't be counted (water, air, energy, blood)), and collective nouns (which can take a singular form but are composed of more than one individual person or items (jury, team, class, committee, herd)).
Below are given several brief facts about the use of singuar and plural nouns in English:

Generally, countable nouns have characteristic of being able to be preceded by a/an article in their singular forms and be ended with -s/-es in their plural forms. In the contrary, such rule is not applicable to the uncountable nouns. Most of uncountable nouns include abstract noun which simply has no physical form, untouchable, and apparently, uncountable.Some of the uncountable nouns are stated below:
1. mass/collective noun;
(baggage, clothing, equipment, food, fruit, furniture, garbage, hardware, jewelry, junk, luggage, machinery, mail, makeup, money/cash/change, postage, scenery, traffic)
2. fluid;
(water, coffee, tea, milk, oil, soup, gasoline, blood)
3. solid things;
(ice, bread, butter, cheese, meat, gold, iron, silver, glass, paper, wood, cotton, wool)
4. gas;
(steam, air, oxygen, nitrogen, smoke, smog, pollution)
5. particle;
(rice, chalk, corn, dirt, dust, flour, grass, hair, pepper, salt, sand, sugar, wheat)
6. abstract noun;
(beauty, confidence, courage, education, enjoyment, fun, happiness, health, help, honesty, hospitality, importance, intelligence, justice, knowledge, laughter, luck, music, patience, peace, pride, progress, recreation, significance, sleep, truth, violence, wealth, advice, information, news, evidence, proof, time, space, energy, homework, work, grammar, slang, vocabulary)
7. language;
(Arabic, Chinese, English, Spanish)
8. academic subject;
(chemistry, engineering, history, literature, mathematics, psychology)
9. recreation;
(baseball, soccer, tennis, chess, bridge, poker)
10. some activities;
(driving, st
11. natural phenomena
(weather, dew, fog, hail, heat, humidity, lightning, rain, sleet, snow, thunder, wind, darkness, light, sunshine, electricity, fire, gravity)