DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Pendidikan komperhensip Ala pesantren Sebagi solusi masa depan

Minggu, 09 Mei 2010
Pesantren merupakan institusi keagamaan yang terbilang unik, sehingga jarang di jumpai di Negara manapaun kecuali di Indonesia. Pesantren merupakan asli budaya Indonesia yang eksistensinya tetap eksis hingga sekarang bahkan di masa yang akan datang. Terbilang unik karena institusi tersebut walaupun mempunyai visi- misi yang relative sama yaitu melestarikan ajaran islam berdasarkan faham ahlussunnah wal-jamaah, namun corak dan warnanya begitu beragam. Hal ini tidak lepas dari keberadaan pesantren yang selama ini tetap konsisten hidup mandiri, sehingga sedikitpun tidak ada intervensi dari pihak manapun (independent) dalam mengatur kurikulum pendidikan yang akan digunakan. Hal ini murni tergantung masyarakat masing-masing pesantren terutama pengasuh sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam institusi tersebut.
Dalam perkembangannya, pesantren bukan hanya berkutat pada wilayah ritual saja, namun sudah banyak memberikan konstribusi terhadap bangsa dan Negara. Bahkan pesantren bukan hanya ikut berpartisipasi melainkan menjadi yang terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan serta menghapus penjajahan di atas bumi pertiwi. Dan perlu di garis bawahi bahwa perjuangan pesantren bukan hanya sebatas ingin mengujudkan kemerdekaan, melainkan juga ingin membela aqidah dari rongrongan para penjajah yang kian hari semakin melebarkan sayapnya. Mereka bukan hanya mengeksploitasi kekayaan Negara, melainkan juga membawa misi agama. Atas dasar inilah mereka tidak pernah gentar walaupun harus terjun kemedan laga dan nyawa sebagai taruhannya. dengan penuh keyakinan mereka berkata “hidup menjadi mulya atau mati mendapat surga”. Berkat jasa-jasanya ini, peran pesantren terukir dengan tinta emas dalam lembaran sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan ini, wajar jika sastrawan sekelas ST Ali Syahbana mengatakan bahwa “seandainya pesantren tidak ikut andil, bahu-membahu membantu tentara nasional, maka mustahil pada saat ini Indonesia menjadi Negara yang merdeka”. Namun sayang karena distorsi sejarah, peran pesantren tenggelam seiring perjalan waktu. Namun bagi pesantren persoalan ini bukanlah persoalan yang esensial, karena memang perjuangnya bukan untuk mendapatkan pengakuan akan eksistensinya melainkan dilandasi dengan nilai-nilai keikhlasan, murni sebagai bentuk pengorbanan diri terhadap negaranya. Sikap pesantren yang seperti tidak bisa dilepaskan dari ajaran-ajaran pesantren itu sendiri yang memang lebih menekankan nilai-nilai keikhlasan dalam setiap tindakan.
Sebagai lembaga keagamaan, walaupun masing-masing pesantren dalam mengembangkan kurikulum pendidikannya memberikan stressing yang berbeda. Namun subtansi pendidikan yang disajikannya, baik yang mengatasnamakan sebagai pesantren salafiyah maupun kholafiyah sama-sama mencakup terhadap tiga hal. Pertama: pendidikan Intelektual Question(IQ). Kedua: pendidikan Spiritual Question(SQ). ketiga: pendidikan Emosional Question(EQ). inilah yang oleh Penulis dikatakan sebagai ‘Pendidikan Komperhensip” yaitu pendidikan yang utuh yang sulit ditemukan di berbagai lembaga pendidikan luar pesantren.
A. Pendidikan Spiritual Questioan(SQ).
Peran pesantren dalam pengembangan spiritual santri tidak dapat diragukan lagi. Sebagaimana visi dan misi di balik pendiriannya yaitu mencetak kader-kader yang bertaqwa serta berakhlaq mulya. Untuk meraih cita-cita luhur ini pesantren selalu konsisten dalam mengawal proses pendidikan peserta didiknya sehingga nuansa kehidupan yang terbangun di dalamnya sarat akan nilai –nilai spritrual. Lihat saja, bagaimana kegiatan-kegiatan mereka yang di format sedemikian rupa. bahkan di sana mereka juga dianjurkan membaca al-qur’an, berjamaah, berdzikir hingga menghidupkan waktu malam dengan berbagai amalan yang bernilai ibadah. Kesemuanya ini di maksudkan agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tertrasformasi ke dalam jiwanya.
B. Pendidikan Intelektual Question(IQ).
Pesantren juga sangat konsistendan berperan aktif dalam mengembangkan kualitas intelektual para santri. Hal ini bisa dilihat melalui terwujudnya berbagai wadah serta media kreativitas dan produktivitas santri.. Dengan demikian, pesantren bukan hanya memfasilitasi belajar santri dalam kelas saja, namun di samping itu masih banyak Program-program khusus yang sengaja diformat dalam rangka pengembangan intelektual santri Seperti halnya: musyawaroh bersama, diskusi, forum bahtsul-masail, dialog interaktif, serta berbagai pelatihan keterampilan dan kepemimpinan.
Program-program tersebut di realisasikan, tidak lain karena pesantren sadar bahwa dalam diri santri terdapat berbagai potensi yang harus digali. Sehingga adanya program tersebut diharapkan menjadi stimulus bagaimana seorang santri mampu mengaktualisasikan potensi yang ada dalam dirinya.
Lingkungan pesantren sangat kondusif dalam transformasi ilmu pengetahuan. Karena di sana, di samping seluruh aktivitasnya mengandung nila-nilai tarbiyah, mereka juga mendapat pengawasan selama 24 jam dari para seniornya, sehingga untuk melakukan hal-hal yang kurang bermamfaat dapat diminimalisir.
C. Pendidikan Emosional Question(EQ).
Dalam pengembangan emosional seseorang, pesantren juga layak diperhitungkan. Hal ini tidak lepas karena di dalamnya terdapat sebuah komonitas yang menjadi cermin atau refleksi dari kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Dalam komonitas tersebut terdiri dari beberapa individu yang datang dari berbagai pencuru, yang tentunya hal ini menyebabkan adanya perbedaan krakter serta watak di antara mereka berdasarkan perbedaan latar belakang dan budaya.
Dengan realitas yang seperti itu, seorang santri bukan hanya digembleng bagaimana memperindah hubungan secara vertikat tapi juga secara horizontal, sehingga mereka tidak hanya memandang ajaran agama melangit secara teoritis, melainkan juga di tuntut mampu menjadikan ajaran tersebut menbumi sacara praktis. Dan dengan realitas itu pula, seorang santri akan mempunyai pandangan bagaimana sejatinya kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Bahkan di sana mereka sudah ditempa bagaimana menyikapi berbagai pebedaan. Dan tentunya hal ini akan menjadi referensi yang sangat berguna bagi kehidupan mereka nanti.
Berkaitan dengan ini, KH. Musthofa Bisri berkata: bukti kedewasaan seseorang, mampu hidup di tengah berbedaan. Dengan dauh ini, bisa dikatakan bahwa peran pesantren dalam membangun mental kedewasaan sangat signifikan. Betapa tidak? Kerena di sana, seorang santri dituntut mampu mengabaikan sebuah perbedaan dengan mencari satu titik yang mampu mengikat mereka dengan tali persaudaraan, yang pada akhirnya melahirkan nilai-nilai kebersamaan yang memang dianjurkan dalam kitab suci Al-Qur’an. Disamping itu, pendewasaan seorang santri juga ditempa melalui kaemandirian. Sehingga nantinya mereka mampui menyikapi berbagai tantangan di tengah realita kehidupan.

Dengan konsep pendidikan yang integral ini, pendidikan pesantren merupakan sebuah solusi dari berbagai persoalan yang melanda negeri ini, karena kalau kita mau objektif dalam menilai, maka kita akan mengetahui bahwa ternyata sumber dari segalanya adalah karena ketiga konsep pendidikan di atas (spiritual question, intelektual question dan emosional question) tidak menyatu dalan kepribadian para pejabat Negara. Sehingga dengan adanya lembaga pendidikan pesantren ini, nantinya diharapkan mampu melahirkan para generasi yang kompetitif seta kredibel dalam rangka meyongsong masa depan bangsa yang lebih cerah.
Dengan demikian sudah selayak-nya pemerintah kini memberikan perhatian lebih atau bahkan menjadikan pendidikan ala pesantren sebagai kiblat dari berbagai lembaga dalam merumuskan konsep pendidikannya.


Penulis adalah santri PP. Miftahul-Ulum
Bettet pamekasan

0 komentar:

Poskan Komentar