DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

MENGGAGAS PENDIDIKAN IDEAL BERBASIS MORALITAS

Selasa, 28 September 2010
Oleh: Muh. Qari’ Ayatullah *)


Prestasi dibidang pendidikan memang bukan hal yang baru lagi bagi Indonesia. Olimpiade sains, matematika dan fisika setingkat internasional menjadi bahan wajib bagi siswa warga indonesia untuk mengikutinya. Tidak hanya memeriahkan, Indonesia sudah banyak menorehkan tinta emas dibidang-bidang olimpiade tersebut sebagai juara. Prestasi ini tentunya merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi warga indonesia. Bagaimana tidak, negara yang sedang tertimpa berbagai masalah internal semisal korupsi dan kriminalitas masih mampu mengibarkan sang saka merah putih ditiang yang paling terhormat ditengah-tengah bendera dunia, apalagi dibidang pendidikan. Prestasi ini pun mengangkat citra Indonesia di mata dunia.
Indonesia sedikit lega karana disatu sisi sudah berhasil mengemban Amanah Nasional yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa (walaupun tidak secara keseluruhan). Namun, disisi lain UUD no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada bab 1 berupa ketentuan umum yang menyebutkan bahwa ‘pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan nuansa belajar mengajar agar peserta didik secara aktif mengemban potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, masyarakat, bangsa, dan negara’. Dengan ini bisa disimpulkan tujuan pendidikan lebih berorientasi pada masalah spiritual dan moralitas, sedangkan kemampuan intelektual hanyalah sebagai pelengkap belaka.
Nampaknya akan terasa lebih indah nan cantik jika kemampuan intelektual yang sudah ada dibarengi dengan kecerdasan emosional dan moraltas yang baik pula. Tatanan kehidupan masyarakat yang memiliki taraf keilmuan memecahkan masalah secara benar dan tepat serta dapat menganalisa sumber masalah tersebut akan terasa lebih jika perilaku masyarakatnya yang mencintai kejujuran, keadilan, keindahan, saling menghormati, saling memaafkan. Sehingga, masyarakat madani betul-betul dapat diwujudkan. Hal ini dapat terealisasi manakala masyarakat kita memiliki daya intelektual (kognisi), budi pekerti dan nurani (afeksi) dan keterampilan fisik (psikomotorik). Proses pendidikanlah yang berperan dalam sektor ini.

Penyelarasan Tujuan
Sabda Rasululllah terasa sangat sangat cocok untuk kita jadikan sebagai landasan dalam proses pendidikan di negeri ini, yaitu: ’ilmu adalah cahaya dari Tuhan dan cahaya Tuhan tidak akan diberikan pada orang-orang yang penuh kemaksiatan (perilaku yang tidak terpuji)’. Pendidikan harus mengedepankan moralitas, keikhlasan, transparansi, ketulutusan hati dan kejujuran para pelaksananya. Nilai-nilai pendidikan yang berupa kognitif, afektif dan psikomotorik bagaimana bisa bersentuhan dengan nilai-nilai moralitas. Hal ini akan terasa mudah jika seluruh masyarakat utamanya pihak yang terkait dengan pendidikan dapat bersatu kembali, bahu membahu dan sepakat melaksanakan pendidikan sesuai tujuan tersebut.
Ada dua aspek yang sangat penting dalam pendidikan. Pertama belajar (learning) merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Kedua pembelajaran (instrument) yaitu proses interaksi guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar. Dua hal ini dilakukan tidak hanya untuk meningkatkan pemberdayaan kofnitif siswa saja, melainkan wawasan berupa skill dan kecerdasan emosional juga menjadi tujuan utama dalam pelaksanaan pembelajaran.

Perampingan Kurikulum
Kurikulum merupakan salah satu perangkat pendidikan yang menentukan arah ke mana pendidikan tersebut akan dibawa. Kurikulum merupakan tolak ukur keberadaan pendidikan di suatu daerah. Kurikulum berisikan tujuan-tujuan mulia dari pendidikan yang bermaksud untuk menerapkan prinsip mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi kalimat suci dalam Pembukaan UUD 1945. Namun, harus kita akui bahwa kurikulum yang ada sekarang masih jauh dari jargon tersebut diberbagai bidang disiplin ilmu. Kurikulum yang ada masih sarat dengan muatan yang membebani siswa untuk fakus menelaah masing-masing pelajaran yang ada. Masih gemuknya kurikulum pendidikan kita menyebabkan konsentrasi peserta didik terpecah terhadap berbagai permasalahan yang kompleks. Memang, ada beberapa pelajaran yang kita mendapatkan prestasi didalamnya, bahkan sampai di tingkat internasional, akan tetapi pada ilmu-ilmu yang lainnya mereka nampak masih belum menguasai.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya kiranya jika kita coba rampingkan kurikulum pendidikan yang ada di negeri ini. Dimulai dengan memaksimalkan visi utama masing-masing lembaga pendidikan. Baru setelah itu kita rancang kurikulum yang ramping dan bisa menyeluruh kepada seluruh peserta didik dengan tetap kita fokuskan pada pencapaian visi tersebut. Inilah yang menjadi tantangan dari para pendidik, karena disisi lain kurikulum yang ada seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) hanya sedikit memberi wewenang bagi lembaga untuk mengatur materi dan muatan pengembangan siswanya serta lembaga tersebut. KTSP belum memberikan kewenangan mutlak kepada lembaga

Pelajar Dan Pengajar
Lepas dari kurikulum yang digunakan di Indonesia, keseriusan pendidik dan peserta didik adalah adalah hal penting dalam proses pembelajaran. Keterkaitan antara guru dan siswa sebagai kapasitas mereka masing-masing dalam melakukan kewajibannya harus betul-betul diprioritaskan. Pendidik harus memposisikan diriya bukan hanya sebagai pengajar dan pemberi ilmu, melainkan lebih pada pendidik yang sebenarnya. Dengan memiliki predikat sebagai pendidik, seorang guru dituntut untuk senantisa menjadi panutan bagi siswa baik dalam proses pemberian ilmu pengetahuan maupun dalam mengembangkan nilai-nilai moral dan etika sehingga tiga kecerdasan tersebut (kognitif, psikomotorik dan afektif) dapat tercapai secara seimbang. Disamping itu seorang pendidik juga diharapkan bisa menjadikan profesinya sebagai kecintaan. Jika demikian, maka guru akan senantiasa menjadikan pekerjaannya sebagai objek utama prilakunya dan menjadikan anak didik layaknya anak kandung sendiri yang diharapkan kelak dikemudian hari dapat melanjutkan keilmuan dan keahliannya.
Timbal balik dari pelajar dalam hal ini peserta didik juga harus disiapkan. Kesiapan secara mental, niat yang sungguh-sungguh, keikhlasan, serta usaha yang maksimal harus dilakukan oleh siswa agar proses belajar mengajar berjalan harmonis dan demoktatis.
Beberapa tinjauan tersebut merupakan kunci yang harus diperhatikan apabila kita betul-betul ingin mensinergikan kecerdasan intelektual yang bagi kebanyakan masyarakat sudah dimiliki dengan kecerdasan emosional yang sejauh ini nampak masih sedikit keberadaannya. Pendidikan akan terasa sempurna dan melahirkan generasi cerdas, beriman dan bertaqwa apabila dilakukan dengan mengedepankan moralitas dan kesucian hati dalam segala aspeknya. Sebaliknya pendidikan akan hanya melahirkan generasi yang pintar tapi kurang bertanggung jwab dengan berbagai keilmuannya jika dilaksanakan dengan cara yang kurang benar. Sehingga dengan memposisikan sejajar antara kecerdasan intelektul dengan kecerdasan moral spiritual dengan ditopang oleh kurikukum yang dapat ditangkap oleh seluruh siswa, pendidikan dapat berjalan dengan terpuji dan menghasilkan generasi yang siap pakai dimanapun dan kapanpun. Amin.

*) Mahasiswa Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan Fakultas Teknik tapi benci Banget sama UIM sama Pengelolanya



Identitas Penulis
Nama : Muh. Qari’ Ayatullah
Alamat:Pedemawu Timur Pademawu Pamekasan
Telp :(o324) 331828/ 081331203932

0 komentar:

Poskan Komentar