DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

ANGGARAN DENGAN PENDEKATAN TRADISIONAL DALAM ORGANISASI SEKTOR PUBLIK

Sabtu, 18 Desember 2010
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Suatu organisasi pasti mempunyai sebuah strategi, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Strategi tersebut menjadi panduan bagi semua unsur organisasi untuk dituju atau dicapai. Strategi yang biasanya dituangkan dalan sebuah visi dan misi tersebut kemudian diterjemahkan dalam tujuan-tujuan yang bersifat rinci untuk dicapai dalam jangka waktu satu tahun.

Tujuan organisasi diformulasikan dalam pertanyaan-pertanyaan kualitatif. Anggaran akan dibuat untukmenyatakan tujuan-tujuan tersebut dalam sebuah pernyataan kualitatif. Selanjutnya aktivitas organisasi akan di dasarkan pada tujuan dan anggaran yang telah dibuat. Dengan kata lain, tujuan organisasi dan anggarannya akan menjadi panduan dalam segala aktifitas yang dilakukan.

Suatu organisasi sektor publik dikatakan memepunyai kinerja atau performa (performance) yang baik jika segala aktivitasnya berada dalam kerangka anggaran dan tujuan yang ditetapkan serta dalam jangka panjang mampu mewujudkan strategi yang dipunyai. Disini ada sebuah beban berat dalam proses penyusunan anggaran. Mengapa? Karena anggaran yang didesain dan disusun harus mampu menjadi panduan yang baik yang akan membuat aktivitas organisasi sesuai dengan tujuan dan strategi yang telah ditetapkan.

B. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana proses anggaran dengan pendekatan tradisional?
  2. Apakah kelebihan dan kekurangan dari anggaran dengan pendekatan tradisional?

C. BATASAN MASALAH
Agar dalam pembahasan makalah ini tidak terjadi pembahasan yang meluas maka kami batasi pembasan ini hanya pada proses anggaran kelebihan dan kekurangan dari pendekatan tradisional.


BAB II
PEMBAHASAN

A. PENDEKATAN TRADISIONAL

Terdapat dua ciri utama dalam pendekatan tradisional ini. Ciri pertama adalah cara penyusunan berdasarkan pos-pos belanja. Anggaran dengan pendekatan tradisional menampilkan anggaran dalam perspektif sifat dasar (nature) dari sebuah pengeluaran atau belanja. Ciri kedua dari pendekatan ini adalah Penggunaan konsep inkrementalisme, yaitu jumlah anggaran tahun tertentu dihitung berdasarkan jumlah tahun sebelumnya dengan tingkat kerlaikan tertentu.

Pendekatan tradisional digunakan sebagai dasar bagi elemen legislatif untuk mengendalikan elemen eksekutif. Sekarang ini, pendekatan ini masih menjadi pendekatan yang paling sering digunakan, walaupun elemen dari pendekatan yang lebih baru juga ditambahkan. Anggaran seperti inilah yang sampai sekarang banyak digunakan di negara-negara berkembang.
Pendekatan tradisional terdiri atas tiga proses:
  1. Pihak lembaga yang memerlukan anggaran mengajukan permintaan anggaran kepada ketua eksekutif dan anggaran tersebut dirinci berdasarkan jenis pengeluaran yang hendak dibuat.
  2. Kepala eksckutif mengumpulkan permintaan anggaran dari berbagai lembaga, anggaran ini lalu dimodifikasi oleh kepala eksckutif (dikon-solidasikan). Dari basil modifikasi tersebut, kepala eksekutif kemudian mengajukan permintaan secara keseluruhan untuk organisasi tersebut kepada lembaga legislatif dengan menggunakan perincian yang sama dengan anggaran yang diajukan sebelumnya oleh lembaga-lembaga di bawahnya (dengan menggunakan pendekatan tradisional).
  3. Setclah merevisi jumlah permintaan anggaran, pihak legislatif kemudian menuliskan jumlah anggaran yang disetujui dengan menggunakan pendekatan tradisional. Data-data mengenai program atau kinerja mungkin dimasukkan dalam anggaran, namun hanya sebagai suplemen atau pendukung dari permintaan anggaran yang dirinci dengan menggunakan pendekatan tradisional tersebut.
Tingkat pengadalian atas anggaran akan lebih rendah bila anggaran dinyatakan dalam jenis objek pengeluaran secara global (belanja gaji Rp 15 juta). Dalam kasus ini, eksekutif dapat memiliki kebebasan dalam realisasi anggaran selama Jumlah dalam anggaran tidak terlampaui. Semakin mendetail jumlahnya, anggaran tersebut. Misal, bila dinyatakan gaji Kepala polisi adalah Rp 3 juta aan gaji Kapten polisi adalah Rp 4 juta, maka uang sebanyak gaji kepala dan kapten polisi maksimal harus sejumlah itu, namun kalau anggaran dinyatakan dalam dalam bentuk belanja gaji sebesar Rp 15 juta, maka bisa saja gaji kepla dan kapten polisi melebihi anggaran selama gaji pegawai administrasi apa sehingga jumlah totalnva tetap Rp 15 juta. Hanya Rp 15 juta tersebut yang mengikat secara hukum, namun alokasinya terserah kebijakan eksekutif.

Penyusunan anggaran dengan menggunakan pendekatan tradisional memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:
  1. Pendekatan ini telah lama digunakan, berbentuk sederhana dan mudah dipersiapkan serta dimengerti oleh orang yang berkepentingan.
  2. Pendekatan ini cocok dengan pola akuntansi bertaggung jawaban (responsibility pengendalian accounting), yaitu bahwa pendekatan ini memfasilitasi pengendalian akuntansi dalam proses pelaksanaan anggaran dan data-data yang dapat dibandingkan bisa dikumpulkan untuk beberapa tahun secara berurutan untuk menifasilitasi dilakukannya perbandingan tren.
  3. Hampir semua program memiliki sifat dasar berkesinambungan.
  4. Hampir semua pengeluaran memiliki sifat tidak terhindarkan.
  5. Dalam dunia nyata, keputusan harus didasarkan pada perubahan program, dan perhatian dapat diberikan untuk perubahan yang ditawarkan dan dibandingkan bila data tahun sebelumnya menurut pendekatan ini.
  6. Karena aktivitas merupakan dasar dari unit organisasi, biaya dari setiap aktivitas akan terakumulasi sebagai biaya dari unit organisasi yang bersangkutan. Identifikasi dari bisa aktivitas memungkinkan aclanya-penjumlahan biaya dari tiap program dan unit organisasi.
Namun, pendekatan tradisional ini juga memiliki beberapa kekurangan yang mengundang kritik, di antaranya adalah:
Tidak menyediakan dasar informasi yang memadai bagi pembuat keputusan. Figur 3.3 dan 3.4 hanya memberitahukan daftar karyawan yang hendak dipekerjakan. Hanya para pembuat keputusan yang terbiasa dan cukup mengetahui mengenai fungsi dan aktivitas dari Polres Damai yang dapat menentukan apakah jumlah yang dianggar tersebut memadai dan tidak berlebih (sesuai dengan penggunaannya).
Terlalu berorientasi pada pengendalian dan kurang memerhatikan proses perencanaan dan evaluasi.
  • Ada yang berpendapat bahwa ada ketidak seimbangan dari perhatian yang diberikan. Perhatian yang berlebihan tersebut difokuskan pada input rupiah dalam jangka pendek enga ibatkan kurangnya perhatiin yang diberikan pada pertimbangan jangka panjang dan pertimbangan lain yang relevan terhadap program organisasi secara keseluruhan.
  • Keputusan perencanaan penting cenderung diawali di tingkat manajemen terbawah di organisasi dan kemudian naik ke tingkat di atasnya. Padahal, tujuan dan kebijakan seharusnya muncul ditingkat Manajemen atas dan turun ke tingkat-tingkat di bawahnya. Konsekuensinya adalah bahwa tujuan pemerintah dinyatakan dalam tujuan-tujuan yang tidak terkoordinasi dari kepala masing-masing departemen.
  • Perencanaan mungkin akan kurang diperhatikan karena anggaran didasarkan pada besarnya dan pola dari pengeluaran yang telah ada.
  • Mendorong pengeluaran daripada penghematan. Unit-unit organisasi mendorong untuk membelanjakan anggarannya, dibutuhkan maupun tidak dibutuhkan. Hal ini muncul karena:
  1. Penilaian kinerja cenderung berfokus pada belanja dan unit yang membelanjakan anggarannya di bawah batas akan dianggap baik.
  2. Kalau membelanjakan kurang dari yang dianggarkan, maka dalam periode kemudian jatah anggaran unit tersebut akan dikurangi atau bahkan pengeluaran tersebut tidak lagi dianggarkan.




BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Penyusunan anggaran dengan menggunakan pendekatan tradisional memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:
  1. Pendekatan ini telah lama digunakan, berbentuk sederhana dan mudah dipersiapkan serta dimengerti oleh orang yang berkepentingan.
  2. Pendekatan ini cocok dengan pola akuntansi bertaggung jawaban (responsibility pengendalian accounting), yaitu bahwa pendekatan ini memfasilitasi pengendalian akuntansi dalam proses pelaksanaan anggaran dan data-data yang dapat dibandingkan bisa dikumpulkan untuk beberapa tahun secara berurutan untuk menifasilitasi dilakukannya perbandingan tren.
  3. Hampir semua program memiliki sifat dasar berkesinambungan.
  4. Hampir semua pengeluaran memiliki sifat tidak terhindarkan.
Dalam dunia nyata, keputusan harus didasarkan pada perubahan program, dan perhatian dapat diberikan untuk perubahan yang ditawarkan dan dibandingkan bila data tahun sebelumnya menurut pendekatan ini.

B. SARAN
Saran dan kritik sangat kami harapkan yang bersifat membangun demi kelanjutan pada penyusunan pada makalah berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Nordiawan, Deddi. 2006. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba empat
Bastian, Indra. 2003. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE

0 komentar:

Poskan Komentar