DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

ESENSI HAJI DALAM PENINGKATAN KWALITAS JAMAAH HAJI

Kamis, 02 Desember 2010
Santri PP. Miftahul Ulum Bettet Pamekasan Dan Fungsionaris GmnI Pamekasan
(Dimuat di Radar Madura)

Berziarah ke Baitullah atau Ka’bah merupakan sebuah keinginan yang paling didamba-dambakan oleh setiap Muslim. Hal ini sangatlah beralasan. Disana kita dapat berinteraksi langsung dengan Tuhan melalui ritual-ritual ibadah haji. Inilah suatu kerinduan yang terasa sangat indah jika kita dapat melaksanakannya.

Siapapun yang mengerjakan ibadah haji pasti mendamba-dambakan mendapatkan ‘titel’ haji mabrur dari Allah SWT, karena hanya dengan predikat haji mabrur lah seeorang akan dibukakan pintu surganya. “Alhajju mabruru laysa lahu jazak illal jannah”.

Sebagaimana Rukun Islam lainnya seperti Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, Haji hukumnya juga wajib bagi mereka yang mampu sekali dalam semasa hidupnya. Setidaknya, secara umum haji mengandung tiga aspek yang begitu kental melekat dalam kegiatan-kegiatannya, yaitu aspek spiritual, kejiawaan dan kemasyarakatan.

ASPEK SPIRITUAL
Peningkatan kwalitas spiritual dalam hal ini keimanan dan ketaqwaan memang menjadi tujuan utama dari adanya ibadah haji. Semua orang Islam termasuk Jamaah Haji sudah pasti menginginkan adanya tambahan ketaqwaan setelah datang dari tanah suci. Masyarakat sekitar pasti akan menilai berhasil tidaknya jamaah haji dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya setelah kembali ke tanah air masing-masing.

Dalam ibadah haji aspek mental/ spiritual memang begitu diperhatikan. Semangat dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya begitu terasa dalam ibadah haji. Mereka diwajibkan memakai pakaian ihram, dilarang memakai wangi-wangian merupakan salah satu representasi dari konsep taqwa. Pembentukan watak agar selalu disiplin juga tertanam dalam ibadah haji ini. Ini terbukti dari berbagai ibadah-ibadah dalam tuntunan haji yang memang mengharuskan waktu-waktu tertentu untuk melakukannya, seperti melempar jumroh, mabit di muzdalifah dan ibadah-ibadah lainnya.

Segala bentuk ibadah yang sifatnya memperbaiki rohani kita, semua ada dalam ibadah haji ini. Ibadah haji merupakan “bengkel rohani” yang tiada bandingannya. Ungkapan rasa iman akan tertuang dari mereka jamaah haji kepada Allah SWT karena ketaatan dan ketaqwaan sudah tertanam betul di hati mereka jamaah haji.

ASPEK KEJIWAAN
Kejiwaan atau kita sebut sebagai psikologis begitu besar pengaruhnya terhadap makna berqurban. Qurban sendiri merupakan penyembelihan hewan semata-mata hanya dorongan keimanan kita, ketakwaan yang berangkat dari lubuk hati yang paling dalam. Secara umum kurban dapat kita maksudkan sebagai ukuran ketaatan kepada allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Al-hajj ayat 37 yang artinya “Bahwa allah tidak akan menerima daging-daging hewan yang menjadi kurban dan tidak pula akan darahnya,melainkan allah akan meneriama taqwanya”.

Ketakwaanlah yang menjadi tujuan utama dalam hal ini. Dari hal tersebut akan timbul hal-hal positif dari diri kita semua. Kesabaran, keihlasan dan rasa pengorbanan akan terpancar bagi mereka yang betul-betul melaksanakan ibadah haji karena Allah SWT. Ibadah haji memliki peran membentuk pribadi yang seutuhnya, beriman dan bertaqwa

Orang yang beribadah haji akan merasakan ketenangan jiwa, hati yang penuh akan zikir-zikir kepada Allah, pikiran yang dipusatkan kepadanya. Dalam setiap waktunya di tanah suci selalu diisi dengan hal-hal kebaikan, i’tikaf, tawaf, sholat, baca al-Quran dan segala bentuk hal yang secara logis dapat meningkatkan ketakwaan dan kejiwaan kita.

Yang lebih akan terasa lagi apabila mereka dapat menerapkan apa yang telah di lakukan ditanah suci terhadap tanah air masing-masing. segala macam bentuk kebaikan, kwihlasan, kesabaran dapat mereka implementasikan kembali. Hal inilah yang ternyata sulit dilaksanakan oleh jamaah haji. Kualitas kejiwaan setelah selesai melaksanakan ibadah haji sulit untuk di pertahankan. Tidak jarang mereka malah tambah lebih buruk kelakuannya jika di bandingkan sebulum melaksanakan ibadah haji

ASPEK KEMASYARAKATAN
Selain mengandung nilai spiritual dan kejiwaan, ibadah haji juga memiliki makna silaturrahmi antar umat Islam dan interaksi sosial kemasyarakatan. Haji mewujudkan pertemuan umat Islam di berbagai belahan dunia, guna saling silaturrahim dan tukar pikiran berbagai macam persoalan menyangkut kepentingan umat dan agama Islam sendiri. haji akan menumbukan nilai-nilai humanisme yang memberikan persamaan dalam berbagai tinjauan serta juga mewujudkan nilai-nilai demokrasi dalam melakukan tindakan dan bersosial dengan jamaah lainnya.

Karena itu tidaklah berlebihan jika umat Islam begitu mendamba-dambakan untuk mengikuti pertemuan antara manusia seantero dunia. Walaupun secara geografis letak negara kita sangat jauh dan membutuhkan biaya yang cukup tinggi untuk menunaikan ibadah haji. Maka wajar jika tiap tahun jamaah haji kian bertambah. Namun, yang harus menjadi harapan kita semua adalah bukan kuantitas yang diprioritaskan akan tetapi kualitas ibadah haji kitalah yang harus dipertahankan. Semoga.

*) ASAL PADEMAWU TIMUR, PADEMAWU, PAMEKASAN
CP: 081939307226, dinqari@gmail.com

0 komentar:

Poskan Komentar