DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Teori Konstruktivisme

Kamis, 02 Desember 2010
Lebih dua dasa warsa terakhir ini, dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori konstruktivisme sehingga banyak Negara–Negara mengadakan perubahan–perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktek pendidikan mereka, bahkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Pun tak luput dari pengaruh teori ini berikut ini adalah intisari, sekiranya bisa bermanfaat bagi pendidik dan orang tua.

Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada.

Jika behaviorisme menekankan atau tingkah laku sebagai tujuan pendidikan, sedangkan maturasionisme menekankan pengetahuan yang berkembang dengan usia, sedangkan konstrutivisme menekankan perkembangan konsep dan pengetian yang mendalam, pengetahuan sebagai konsktruksi aktif yang yang di buat siswa.

Jean pieget adalah setiap dikenal dengan teori adaptasi secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia.

Untuk itu, manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalaman–pengalaman tersebut. Dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembangan Proses tersebut meliputi :

  1. Skema/ skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dan interaksinya dengan lingkungan.
  2. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinci.
  3. Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.
  4. Eqvilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga
Seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemata) dalam penerapannya dibidang pendidikan, oleh Ki Hadjar Teori Konvergensi diturunkan menjadi sistem pendidikan yang memerdekakan siswa atau yang disebutnya ”sistem merdeka” Ki Hadjar mengemukakan 10 Syarat untuk melakukan ”sistem merdeka” agar memperoleh hasil yang baik. Inti dari syarat–syarat itu dalam hemat saya adalah memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang dapat dijadikan media pembelajaran mencakup pembelajaran tentang konsekuensi logis dari tindakan sesuai dengan hukum sebab–sebab akibat dan kesadaran tentang pentingnya belajar bagi kehidupan siswa dalam keseharian mereka.
Pendidikan diselenggarakan dengan tujuan membantu siswa menjadi manusia yang merdeka dan mandiri, serta mampu memberi konstribusi kepada masyarakatnya menjadi manusia merdeka berarti (a). Tidak hidup terperintah (b). Berdiri tegak karena kekuaran sendiri (c). Cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Singkatnya, pendidikan menjadikan orang diatur tetapi tidak bisa disetir. Menurutnya, jangan ada perintah dan paksaan dalam pendidikan. Pendidikan adalah orang yang mengajar, memberi teladan dan membiasakan anak didik untuk menjadi manusia mandiri dan berperan dalam memajukan kehidupan masyarakatnya. Ki Hadjar dan konstruktivisme sama–sama memandang pengajar sebagai mitra para siswa untuk menemukan pengetahuan, mengajar bukanlah kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Pengajar ikut aktif bersama siswa dalam membentuk pengetahuan, mencipta makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan memberikan penilaian – penilaian terhadap berbagai hal.

0 komentar:

Poskan Komentar