DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

MINIMNYA MINAT BACA TULIS DI PAMEKASAN

Kamis, 18 November 2010
Pamekasan boleh dikata memiliki beberapa sebutan diantaranya kota gerbang salam (gerakan pembangunan masyarkat islam) koa berteman (bersih tertib aman) kota pendidikan dan juga kota budaya, mengapa kota budaya sebab pamekasan masih mungkin bisa kebudayaan tentang ditinggalkan para pendahlunya misalnya seperti kerapan sapi sonok dan lain sebagainya.

Untuk pengerapan syariat islam (gerbang salam) dan kebersihan ketertiban dan keamanan nampaknya masih bisa dibilang sudah membudaya di pamekasan seperti pemakaian jilbab bagi siswi disekolah – sekolah dan penilangan bagi pengemudi kendaraan yang melakukan pelanggaran. Dan juga kebersihan di berbagai jalan – jalan dipusat kota.

Namun untuk kota pendidikan nampaknya ataupun masih dalam taraf hitungan jari, mungkin karena pamekasan beberapa sekolah berstandar international (SBI) untuk sebutan ini, tapi lebih jauh di dalamnya masih kurang minat baca tulis. Masyarakatnya mengapa demikian ? sebab kurangnya saran dan prasarana yang memadai sebut saja buku – buku diperpustakaan isinya masih itu –itu saja, atau kurangnya perlombaan da seminar – seminar untuk karya tulis ilmiah ini lebih pada tidak ada dorongan lingkungan dan motivasi diri.

Orang lain bisa berpendapat kota pendidikan mungkin mareka memandang sisi baiknya saja, seperti beberapa siswa dipamekasan yang sudah masih dalam pemenang lomba – lomba international atau yang mewakili kemampuan dibidangnya, sementara jauh di pinggiran kota banyak anak – anak yang yang putus sekolah dan banyak pua pemuda pengangguran

Untuk masalah baca tulis, sekali lagi masih bisa dihitung dengan jari jemari lalu di manakah letak kelemahannya. Disini mungkin karena minimya motivasi diri untuk menyadari betapa pengtingnya baca tulis untuk kehidupan. Orang yang mengerti kehidupan pasti lebih memilih untuk senantiasa belajar dari pada harus menyia – nyiakan waktu.

Termasuk juga faktor keluarga walau kita tau dijepang ada gerakan 20 “Minutes Reading Of Mather And Child” dimana orang tua mengajak anak - anaknya membaca minimal 20 menit sebelum tidur, ini menadakan betapa pentinya menanamkan minat baca diusia dini di negara tersebut. Sementara di negara ini minat baca masyarakat berada di posisi 96 yang hampir sejajar dengan malta dan suriname yaitu dalam sekala 1 : 45 (idealnya 1 : 30) malah di banding dengan filifina yang skala 1 : 30 dan srilangka 1 : 30 apalagi cetak media massanya di indonesia < 400.000 eksemplar / hari bandingkan kalau di amerika 2,8 juta eks / hari dan di jepang 10 juta eks/ hari.

Sedangkan untuk penduduk indonesia yang tidak bisa baca tulis (buta aksara) diatas usia 15 tahun angkanya sekitar 10,21 persen atau 15,4 juta jiwa, itu adalah bagian dari potret buram pendikan indonesia apalagi untuk pamekasan. Tampaknya pemerintah belum serius berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan terlebih dalam bidang baca tulis. C

0 komentar:

Poskan Komentar