DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Refleksi Sejarah Pemuda dalam Membangun Bangsa

Senin, 15 November 2010
Kiprah Pemuda Dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Keberadaan pemuda tidak bisa dilepaskan dalam konteks kebgangsaan, karena pemuda adalah kaum yang menjadi tumpuan bangsa dari semua kalangan. Terpelajar, terididik, tertanam mental, energik, berwawasan, penuh dengan gagasan, dan semangat akan perubahn kearah yang lebih maju. Fakta sejarahlah yang menjadi tolak ukur vitalnya mahasiswa dalam pergerakan dan perjuangan, saat-saat kritis bangsa kita ditengah pejajahan secara fisik, ternyata kaum terpelajar dan mahasiswa mampu menyelesaikannya secara psikis.
Setiap perkembangan bangsa fase kemajuan peradaban itu pastilah ada ”gelora darah muda ” yang mempeloporimya. Dimulai Indonesia sebelum berbentuk negara, yaitu dengan menganut kerajaan, sudah ada sosok pemuda yang mengisi ruang kepemimpinan pemabaharuan, seperti Hayam Wuruk, raja Maja Pahit yang baru berusia 16 tahun. Dibawah kepemimpinannya hampir semua kerajaan bersatu saat itu bangsa Indonesia dikenal dengan sebutan Nusantara atau sebutan jawanya Nuswantoro.
Fase berikutnya saat bangsa Indonesia mengalami penjajahan kolonialisme Belanda, pemuda yang merasa sakit, gelisah, dan terbakar semangatnya terhadap penjajahan Belanda pada rakyat Indonesia kembali tampil dalam ruang – ruang pembelaan bangsa. Pangeran Dipenogoro misalnya, ia menolak tawaran tahta mataram yang diberkan kepadanya, namun dia lebih memilih mengangkat senjata, berperang dengan segala yang dia miliki dengan pola gerilyanya. Meski perang tersebut yang brkecamuk pada tahun 1925 hingga tahun 1930 itu gagal mengusir kolonial Belanda namun perang tersebut sangat merepotkan barisan Belanda, bahkan dianggap perang yang paling menghabiskan energi bala tentaranya. Betapa tidak, selain banyak menghabiskan kas negara, pasukan Belanda yang berada di wilayah Indonesia timur, seperti Aceh, Maluku dsb harus di boyong untuk berperang dengan Dipenogoro. Pun kekalahan itu dipenogoro itu karena licik dan prustasinya Belanda dengan menculik Dipenogoro saat mereka sedang melakukan perundingan…!!. Maka kemerdekaan Indonesia yang hingga saat ini kita rasakan bukanlah pemberian dari pihak asing, terlebih lagi pemberian penjajah belanda. Namun itu merupakan usaha bersama penduduk Indonesia dengan segala semangat dan kemampuannya, mengorbankan segala yang dimilkinya sekalipun itu nyawa.
Dalam konteks peradaban, pemuda mempunyai posisi yang setrategis, karena pemuda lepas dengan segala kepentingan pribadi terlebih asing dan kritis, dalam memperjuangkan peradaban. Terlebih pemuda terdidik (mahasiswa), sehingga gerakan pembaharuan pemuda mahasiswa sering kali disebut gerakan moral (moral force).
Dalam polemik politik bangsa pemuda sering kali berhadapan dengan generasi sebelumnya, sehingga sering kali berbenturan dengan perbedaan kepentingan. Pemuda di sebut revolusioner, dan golongan tua biasa disebut dengan kelompok yang konservatif, kolot dan pro status quo. Meski gerakan pemuda tidak sepenuhnya berjalan linear.
Sosiolog jerman Max Waber pernah mengatakan ” generasi kita tak begitu beruntung untuk mengetahui apakah perjuangannya kelak akan mendatangkan hasil (seperti yang dicapai generasi sebelumnya) dan apakah keturunan kita akan mengakui kita sebagai nenek moyang mereka. Kita tak akan menghapuskan kutukan yang terlontar krpada kita yang terlontar kepada kita sebgai pengekor dari suatu era politik besar, kecuali jika kita berhasil untuk menjadi sesuatu yang lain pendahulu dari zaman yang besar. Apakah ini yang akan terjadi dari tempat kita sejarah? Saya tak tahu dan hanya bisa mengatakan: adalah jika kalian jujur kepada diri sendiri dan kepada cita-citanya ”.
Dalam sejarah bangsa Indonesia pemuda mempunyai andil yang amat penting, yang dapat di bagi kedalam beberapa periode, setiap periode pemuda mempunyai ciri husus dibanding dengan kelompok di bawah dan diatas usianya yang mempunyai daya kreatif dan adaftif,serte memposisikan diri sebagai agents of change.
Pemuda Era Kebangkitan Nasional
Dalam fase perjuangan beriutnya, dunia kembali digehgerkan dengan gerakan pemuda Indonesia yang tidak henti-hentinya melawan penjajahan Belanda. Tentunya dalam fase ini sekelompok pemuda berusaha membaca peta lawan, dan gerakan pemuda sebelumnya. mereka mengubah pola gerakan yang sebelumnya cenderung sentralistik, karena pengaruh sistem kerajaan. Sekelompok pemuda Indonesia itu adalah mahasiswa STOVIA. Pejuangan yang sebelumnya selalu mengalami kegagalan itu rupanya membuat kesungguhan mereka mengadopsi semangat kaum muda yang berjuang pada fase perjuangan sebelumnya. Yaitu mereka mencoba membuka cakrawala pemikiran yang lebih terbuka, elegan, berstrategi pemikiran, dengan membentuk organisasi yang dinamakan Budi Utomo. Pada mulanya Budi Utomo terfokus pada organisasi yang berorientasi pendidikan, penanaman leadership dikalangan pemuda, namun seiring dengan nuansa zaman, organisasi itu berperan pada polemik politik antara kolonial dengan bangsanya. Organissasi itu dibentuk pada bulan mei 1908 yang hingga sekarang dijadikan hari yang paling monumental dalam konteks kebangkitan dan kepemudaan. Yang diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.
Kebesaran Budi Utomo bukan karena hanya belum adanya lembaga formal atau lembaga kepemudaan lainnya, namun Budi Utomo lahir sejak bangsa Indonesia tengah mengalami penderitaan besar-besaran dari penjajah, bukan hanya secara fisik, kolonial Belanda merauk secara besar-besaran hasil kekayaan. Dalam penjajahn psikis, belanda mengirimkan para sarjana dan tokoh agamanya untuk mengajarkan sikap kerendah dirian, lebih parah lagi mereka mengajarkan sikap semangat menyerah dikalangan rakyat. Penjajahn itu semakin memperparah keadaan SDM rakyat ditengah yang waktu itu hanya 7 persen saja rakyat yang bisa membaca dan menulis.
Pada masa itu pemuda mempunyai karakter yang berbeda dengan masa-masa berikutnya, seperti di gambarkn Edwards Shils yang dikutip J.D Ladge menggambarkan kaum muda asia, termasuk didalamnya intelektual muda Indonesia, dalam konteks kebangsaan mereka mengambil gerakan nasionalisme dan revivalisme navistik (gerakan kebagkitan kembali kaum pribumi), serta rasa benci menghadapi kebudayaan metripolitan (negara penjajah), terdapat diseluruh Asia. Hal serupa ditambahkan Muhamad Hata, kaum muda yang hidup di zaman pra kemerdekaan berbeda dengan pemuda yang hidup pada masa selanjtnya, bahkan berbeda dengan pemuda yang tinggal di negara-negara maju. Pemuda yang hidp dibawah penjajahan sering kali cepat dewasa dan sadar dengan posisi kritisnya. Betapa tidak sejak usia mereka kanak-kanak, yang seharusnya mereka pergunakan untuk bermain, mereka sudah meliaht pemandangan penjajahan yang dialami pada keluarga mereka. Ditambah penjajahanpun masuk pada sekolah-sekolah, mereka mengajarkan pada siswa untuk mengagungkan tokoh-tokoh barat, seperti Mazzini, Garribaldi, Wilem Van Oranje, koan, dan mereka harus melupakan totkoh pejuang Indonesia, seperti pangeran Dipenogoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar mereka di cap sebagai pemberontak, pengecut dan sebaginya. Sebab itulah pribadi pemuda dibentuk sendirinya.

0 komentar:

Poskan Komentar