DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Realitas yang Terjadi Dalam Gerakan Mahasiswa

Senin, 15 November 2010
Pada paparan sebelumnya telah dibahas tentang berbagai idealisme dalam sebuah gerakan mahasiswa beserta komponen mahasiswa di dalamnya. Dengan rujukan idealisme tersebut, sebuah gerakan mahasiswa dapat diketahui realitasnya apakah sebuah gerakan itu sesuai dengan apa yang menjadi landasan ideologinya atau hanya menjadi sebuah alat dari pihak-pihak tertentu dalam memenuhi kepentingan individu dan golongan. Terkadang sebuah idealitas harus teracuhkan dalam kerja-kerja nyata di lapangan.
Dalam aplikasi dan solusi yang ditawarkan secara tak sadar telah keluar dari konsep dasar sebuah pergerakan mahasiswa. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, bahkan pada angkatan 66 sudah terbukti bahwa gerakan mahasiswa akhirnya menjadi sebuah mitos sejarah belaka yang diakibatkan karena berbagai kepentingan dan keinginan yang melenakan dari pihak-pihak yang turut andil dalam pergerakannya. Zaman yang berubah cepat, kaum muda Islam di Indonesia sebagai yang terbesar, diminta untuk mengambil tindakan-tindakan yang bertendensi ke masa yang akan datang.
Setiap kita terutama pemuda an mahasiswa diminta untuk melibatkan diri dalam suatu kelompok entitas, apakah kita sebagai entitas bangsa atau sebagai entitas kesadaran. Kesemuanya itu menandakan adanya suatu persimpangan yang rumit dan juga suatu pertaruhan yang melibatkan tidak hanya satu generasi saja dari bangsa ini, akan tetapi juga melibatkan mereka yang belum lahir dalam kehidupan bangsa ini. Dalam posisi ini, ketika gerakan mahasiswa memposisikan diri sebagai pelaku dan bukan penonton, persoalannya bukanlah semata-mata optimisme atau pesimisme. Lebih dari itu, mahasiswa harus mampu berfikir apa yang harus dilakukan dan seberapa besar energi dan amunisi yang harus disiapkan. Sudah saatnya pula gerakan mahasiswa menegaskan kembali untuk tidak terlarut dalam romantisme sejarah, meskipun dengan tetap mengakui bahwa mereka adalah “anak-anak yang tumbuh di bawah asuhan sejarah”. Disini, tugas gerakan mahasiswa bukan sekedar menuju pada suatu benua makna, akan tetapi menerkaGerakan Mahasiswa Antara Idealitas dan Realitas 18 nerka maknanya, menaksir terkaan-terkaan itu dan menarik kesimpulan dan terkaan terbaik. Sebagai suatu gerakan mahasiswa, realitas yang terjadi saat ini biasanya adalah sebuah pergeseran nilai-nilai idealisme yang sejak awal diusung oleh mereka—mereka yang menyebut dirinya sebagi agen peubah. Bahkan lebih buruk lagi, sebuah analisis yang dilakukan, reformasi jangan sampai mati, untuk itu perlu peran gerakan mahasiswa yang ada sebagai bentuk kontrol sosial menjadi wadah bagi terciptanya reformasi tersebut dalam tatanan mikro.
Maka, dalam hal aplikatif tidak hanya sekedar pemikiran sebelah pihak saja, tetapi perlu proses aplikatif dalam tatanan yang lebih real dan sesuai dengan tuntutan zaman. Kalau beberapa tokoh mengatakan “No action, talk only”, mungkin ada benarnya pada sebagian gerakan mahasiswa. Berbagai diskusi yang dilakukan dalam setiap elemen mahasiswa belum mampu merumuskan suatu konsep bersama yang solid untuk melakukan sebuah perubahan yang lebih berarti. Aksi-aksi yang dilakukan tidak hanya sekedar perhelatan tradisi pengulangan sejarah atas wacana yang ada di dalam masyarakat, tetapi juga mampu menimbulkan efek yang cukup kuat bagi terciptanya suatu solusi dalam rangka perbaikan. Mulai saat ini mahasiswa harus menyadari bahwa perlawanan lewat aksiaksi demonstrasi jalanan saja tidaklah cukup, karena ia “hanya” berfungsi untuk mereduksi kedzaliman, dan belum cukup tepat untuk disebut solusi. Lebih dari itu, pemuda harus menyadari bahwa mereka, minimal, memiliki empat agenda. Pertama mempersiapkan para tekno-birokrat, kedua mempersiapkan para ‘intelektual organik’. Ketiga mempersiapkan kader-kader ‘pemimpin politik’ dan keempat mempersiapkan para pengusaha. Agenda ini harus dijalankan secara serius untuk mengobati “cacat bawaan” kepemimpinan dan personal yang ada pada bangsa ini. bijaksana. Permasalahan yang menyibukkan masyarakat di Indonesia, juga internasional, sesungguhnya terjadi di wilayah internal. Berbagai konflik antar gerakan dan kelompok tertentu sudah bermetamorfosa kepada konflik antar gerakan lain khususnya mahasiswa.
Dalam gelombang perubahan ini, saatnya sekarang para pemuda dalam arti mahasiswa secara khusus diberi ruang untuk memainkan peranan yang menentukan. Kaum muda adalah mereka yang dipihaki Gerakan Mahasiswa Antara Idealitas dan Realitas 19 oleh waktu, dan karena itu melawan kebangkitan pemuda berarti mengkhianati proses hidup yag telah ditetapkan Allah Swt. Tentunya dalam konteks ini kita teringat sebuah tulisan yang dibuat oleh Jane Foster, Kumi Naidoo, dan Marcus Akhuta-Brown, judulnya “Youth Empowerment and Civil Society”. Tulisan yang termuat dalam buku Civil Society at the Millenium (1999) ini menggariskan pentingnya pemuda dalam proses perubahan politik melalui civil society dimanamana. society”. Negara ini terus-menerus melakukan keterpurukan terhadap masa depan generasi berikutnya. Kegagalan ini membuat sindrom pemalasan sosial (social loafing) yang terjadi terus menerus tanpa henti. Semua orang berbicara atas nama rakyat tetapi hakekatnya mereka lebih senang bekerja sendiri untuk memenuhi ambisi politik mereka daripada bekerjasama dengan elemen bangsa yang lain untuk kebutuhan bangsa yang lebih besar. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai kondisi pada saat ini bukan dalam kondisi yang ideal. Masalah yang timbul bukan masalah hitam dan putih untuk bisa dibedakan secara jelas. Tetapi masalah yang timbul adalah di antara abu-abu dan sedikit abu-abu. Kecerdasan dan kejernihan pikiran dibutuhkan dalam mengambil keputusan karena Islam mempunyai manhaj berfikir sendiri. Maka gerakan mahasiswa harus mampu mewujudkan sebuah solusi yang bijak sesuai dengan idelisme yang diusung dari beragam masa perjuangan Indonesia. Proses perbaikan umat (ishlahul ummah) diperlukan dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia karena hanya melalui perbaikan itulah konflik dan persaingan bisa menjadi rahmat bagi umat. Perbaikan ini memerlukan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sehingga diperlukan keberanian dan sikap tegas dalam mengambil keputusan untuk memulai memasuki babak baru perbaikan. Gerakan Mahasiswa Antara Idealitas dan Realitas 20

0 komentar:

Poskan Komentar