DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

kenapa Bang Nurdin gak mau pergi dari PSSI ya....?

Selasa, 01 Maret 2011

Sulit memang jika pemimpin tertinggi sepak bola kita tidak tahu menahu betul tentang sepak bola yang benar dan baik. Tidak paham arti fairplay no anarkis no rasis dalam persepak bolaan. Masyarakat sudah banyak yang tidak setuju dengan kepemimpinan beliau, bang Nurdin, eh ........Nurdin dan kolega semakin merapatkan barisan dalam kongres ntar lagi. Apa rakyat, dunia bahkan FIFA. Pak.........PSSI bukan untuk kepentingan pribadi, sadarlah, rakyat anda, para pecinta bola, bahkan seluruh masyarakat menginginkan sepak bola kita lebih maju. Cobalah gantikan ke yang lainnya. Itu baru fairplay dalam sepak bola. Ya.....maklumlah, jika Anggota dewan kita meluangkan waktunya untuk memikirkan masalah ini......!!! nch banyak beritanya....

.................. Ramai-ramai suporter bola mendemo sang pemimpin bola Indonesia (baca PSSI) Nurdin Halid. Nurdin, saudagar dari Bugis, Sulawesi Selatan memang benar-benar tangguh dan kuat di PSSI.

Betapa tidak, semasa menjalani pesakitan di penjara selama 2 tahun dalam kasus korupsi dana pendistribusian minyak goreng Bulog Rp 169,7 miliar, Nurdin masih bisa mengendalikan PSSI dengan telunjuknya.

Nurdin pun sangat cerdik bermanuver. Masih ingat secara terang benderang ketika Timnas kita sedang jaya-jayanya dan dieluk-elukkan oleh pecinta bola seantero bumi Indonesia, saat Piala AFF Suzuki akhir 2010 lalu.

Ia dengan terang-terangan mengajak Irfan dan Gonzales bertandang ke rumah Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Tak habis sampai disitu, Nurdin pun mengajak Irfan dkk melakukan istighosah di Pondok Pesantren Assidiqiyah. Apakah ada hasilnya ? Tentu tidak.

Kita taulah timnas Indonesia dalam final Piala AFF akhirnya tunduk pada tendangan-tendangan dan gol-gol dari tim harimau Malaysia. Kita tentu tidak bisa menyalahkan timnas. Nurdin pun tak mau disalahkan. Jadi salah siapa?

Kisah Nurdin pun berlanjut. Nurdin pun ikut berkompetisi dalam bursa kandidat ketua umum PSSI yang ketiga kalinya. Nurdin dapat mulus lolos Tim Verifikasi Ketua Umum PSSI periode 2011-2015. Tanpa embel-embel aturan FIFA yang menghalanginya.

Pasal 32 ayat 4 statuta FIFA menyatakan “The members of the Executive Committee must not have been previously found guilty of a criminal offence.” Artinya, anggota Komite Eksekutif tidak boleh pernah dinyatakan bersalah atas tindakan kriminal.”

Pada statuta PSSI pasal 35 ayat 4, ketentuan itu melenceng. Tertulis, “Anggota Komite Eksekutif harus sedang tidak dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal pada saat kongres serta berdomisili di wilayah Indonesia.” Seperti dikutip tribun timur.com.

Lawan-lawan Nurdin, seperti sang Jenderal George Toisutta tak diloloskan tim verifikasi. Begitu pula pengusaha Arifin Panigoro. Alasannya, kelengkapan berkas mereka tak mencukupi dan belum pernah aktif dalam kepengurusan PSSI selama 5 tahun. Entah alasan apa lagi?

Mulusnya Nurdin menjadi kandidat untuk menduduki kursi nomor satu di PSSI yang ketiga kalinya mendapatkan kecaman bertubi-tubi. Demontrasi pecinta bola di tanah air semarak. Kecaman, makian dan hujatan, bahkan tuntutan Nurdin mundur selalu mengema.

Di Aceh, puluhan suporter bola mengelar demontrasi di Bundaran Jalan Simpang Lima guna menuntut reformasi PSSI dan aksi Nurdin dihentikan. Bahkan dalam aksinya, pendemo menginjak-injak poster karikatur Nurdin Halid dan membakarnya.

Di Jakarta, Kantor PSSI yang terletak di Kompleks Gelora Bung Karno diserbu pendemo. Mereka menuntut dilakukannya revolusi PSSI dan menuntut Nurdin turun dari kursi empuknya.

Para macan kemayoran pun tak ketinggalan dalam aksinya. “The Jakmania pun menilai PSSI telah mati,” seperti dikutip kompas.com. Di Bangka, Palembang dan wilayah lainnya di Indonesia marak melakukan demontrasi menuntut Nurdin mundur atau istilah lainnya pergi dari PSSI.

Ada sesuatu yang menarik dibalik gempuran, cacian dan makian terhadap Nurdin. Belakangan anak Nurdin membuat surat dalam tulisan di Kompasiana. Intinya curahan hati sang putri Andi Nurhilda, yang merupakan satu-satunya putri dari enam bersaudara. Isinya :

Dari susunan keluarga ini saja saya sudah bisa melihat bahwa ayah saya orang hebat. Gen laki-laki sangat kuat. Kentara sekali gen orang Bugis dengan karakter lelaki yang kuat.

Buat apa ayah saya cari kekuasaan di PSSI? Toh sebagai pengusaha, ayah saya sudah kaya. Saya bangga punya ayah Nurdin Halid. Ia bertanggungjawab kepada keluarga. Ada hal berkesan darinya saat saya nikah tahun lalu. Ayah sungguh-sungguh memperhatikan kepentinganku.

Aku bisa pesta di hotel mewah di Makassar, Hotel Clarion. Di ballroom pula! Pesta berlangsung meriah dengan balutan “kemegahan”. Ayah orang hebat, terbukti 8.000 orang undangan hadir di pesta pernikahanku.

Ya, Pak Nurdin dimata sang putri tentunya berbeda dengan pandangan pencinta bola pada umumnya. Seperti Jalaluddin Rumi mengumpamakan 7 orang buta dalam melihat sudut pandang dan menilai tentang bentuk gajah.

Semuanya berbeda-beda tentang bagaimanakah bentuk gajah itu sebenarnya. Tapi yang pasti bukan perbedaan yang dicari dalam sepak bola.

Bagi pecinta sepak bola, mungkin juga bagi diriku. Tak peduli siapa Ketua Umum PSSI. Yang pasti kita ingin menyaksikan tendangan-tendangan gol yang menakjubkan dan mengugah mata. Seperti layaknya permainan Barca dan liga Inggris.

Ingin rasanya melihat aksi-aksi tim sepak bola berlaga di pentas dunia. Entah kapan? Atau mungkin seumur hidup tak akan menyaksikannya. Yang disaksikan hanya kisruh dan perebutan kekuasaan di puncak kursi PSSI. Malangnya diriku sebagai pecinta sepak bola….

0 komentar:

Poskan Komentar