DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

A. Perdebatan aktif (Active Debate)

Senin, 03 Januari 2011
A. Perdebatan aktif (Active Debate)
(Ahmadi & Prasetya: 150) menyatakan debat ialah berbicara dari pihak yang pro dan kontra untuk menyampaikan pendapat mereka, dapat diikuti oleh suatu tangkisan atau tidak, dan anggota kelompok dapat bertanya kepada kepada peserta dapat / pembicara.
Menurut (Anonim) strategi active debate adalah sebuah strategi untuk suatu perdebatan yang aktif melibatkan setiap peserta didik dalam kelas , bukan hanya orang – orang yang berdebat. Prosedur dati strategi ini adalah :
1. guru mengembangkan suatu pertanyaan yang berkaitan dengan sebuah isi kontropersial yang berkaita yang berkaitan mata pelajaran, misalnya “kini tidak sedikit anak remaja melakukan hubungan seksual sebelum nikah” atau banyak kalangan pelajar yang sudah menjadi pecandu narkoba.
2. Guru membagi kelas menjadi 2 kelompok debat guru memberikan tugas (secara acak) pada posisi “pro” pada satu kelompok dan posisi “kontra” pada kelompok yang lain
3. selanjutnya guru membuat dua atau empat sub kelompok – kelompok didalam masing kelompok debat itu dalam sautu kelas dengan 24 perserta ddik, misalnya mungkin dapat di buat tiga kelompok pro dan 3 kelompok kontra, masing – masing berisi 4 anggota. Guru meminta kepada tiap – tiap sub kelompok untuk mengembangkan anrgumen – argumen untu posisi yang ditentukannya atau guru memberikan sebuah daftar argumen yang lengkap yang mungkin didiskusikan dan dipilih oleh kelompok pada akhir diskusi mereka setiap sub – kelompok tersebut memilih seorang juru bicara.
4. guru mengatur 2 – 4 kursi (tergantung pada jumlah sub – sub kelompok yang dibuat untuk titiap / bagian) untuk para tujuan bicara kelompok dan menghadap mereka jumlah kursi yang sama untuk juru bicara kelompok kotra guru menempatkan peserta didik yang lain dibelakang team debat mereka.
5. guru dapat menyuruh perserta didik untuk memulai “perdebatan” dengan meminta para juru bicara itu menyampaikan pandangan – pandangan mereka.
6. setelah setiap orang telah mendengar argumen – argumen pembuak, guru dapat menghentikan perdebatan itu dan menggabung kembali sub – sub kelompok semula, itu untuk membuat strategi bagaimana mengkonter argumen – argumen pembuka tersebut dari sisi yang berlawanan. Selain itu guru menyuruh masing – masing sub kelompok untuk memilih seorang juru bicara, lebih baik orang yang baru.
7. guru menyuruh peserta didik untuk memulai ”perdebatan” itu. Guru menyuruh juru bicara itu ditempatkan berhadapan satu sama lain, untuk memberikan ”Kounter Argumen”. Ketika perdebatan berlanjut (pastikan untu menukar antara kedua sisi tersebut), guru mendorong perserta didik lainnya untuk mencatat guru – guru debat mereka dengan beragai argumen atau bantahan yang di yang di sasarkan. Selain itu guru mendorong mereka untuk menyambut dengan applus terhadap argumen – argumen dari para wakil team debat mereka.
8. ketika guru menggap bahwa diskusi sudah cukup, perdebatan tersebut diakhiri. Guru kemudian memberikan ulasan tentang materi yang didebatkan tersebut.
(Abu Ahmadi dan joko tri prasetya : 150) bila kita teliti penggunaan teknik penyajian dengan debat memiliki keunggulan – keunggulan yang dapat dirumuskan demikian :
1. Perdebatan yang sengit akan mempertajam hasil pembicaraan
2. Kedua segi permasalahan dapat disajikan yang memiliki ide dan yang mendebat dan yang menyangga sama – sama berdebat untuk menentukan hasil yang tepat mengenai suatu masalah.
3. siswa dapat terangsang untuk menganalisa masalah didalam kelompok asalkan terpimpin sehingga analisis itu terserah pada pokok permasalahan yang dikehendaki bersama
4. dalam pertemuan debat itu, siswa dapat menyampaikan fakta dari kedua sisi masalah kemudian meeliti fakta mana yang benar / valid dan bisa dipertanggung jawabkan.
5. karena terjadi pembicaraan aktif antara pemrasaran dan penyanggah maka akan mebangkitkan daya tarik untuk turut berbicara turut berpartisipasi mengeluarkan pendapat.
6. bila masalah yang diperdebatkan menarik maka pembicaraan itu mampu mempertahankan minat anak untuk mengikuti perdebatan itu.
7. untungnya pula teknik ini dapat dipergunakan pada kelompok besar.
Tetapi dalam pelaksanaan teknik berdebat ini, ditemukan sedikit kelemahan, bila dapat diatasi guru akan mampu menggunakan teknik ini dengan baik, kelemahan itu ialah :
1. didalam pertemuan ini kadang – kadang keinginan untuk memang telalu bersar, sehingga tidak mempertahankan pendapat orang lain
2. diantara anggota mendapat kesan yang salah tentang orang yang berdebat.
3. dengan teknik berdebat membatasi partisipasi kelompok kecuali diikuti dengan tertulis
4. karena sengitnya perdebatan bisa terjadi terlalu banyak emosi yang terlibat sehingga itu semakin gencar dan ramai
5. gar bisa dilaksanakan dengan baik maka perlu persiapan yang teliti sebelumnya.
B. MINAT
(Abu ahmadi & joko tri prasetyo : 1997 : 170) minat sangat mempengaruhi proses hasil belajar karena kalau seseorang tidak berminat untuk melakkan sesuatu maka ia akan maka ia tidak dapat di harapkan akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut. Sebaliknya kalao seorang mempelajari sesuatu dengan minat, maka hasil yang di harapkan akan lebih baik jika setiap pendidik menyadari hal ini, maka persoalan yang tumbuhan adalah bagaimana belajar itu dapat menarik minat pada pelajaran atau bagaimana caranya menentukan agar para pelajaran mempelajari hal – hal yang menetukan minat mereka.
(A Tabrani rusyan : 1993 : 26) menurut pengertian yang bersifat umum yang di maksud dengan minat (interest) adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada kepada suatu situasi atau obyek tertenru yang menyenangkan dan memberikan kepuasan kepadanya (Satisfies). Dengan demikian minat dapat menimbulkan sikap yang merupakan suatu kesiapan berbuat bila ada simulasi khusus sesuai dengan keadaan tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar