DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Segelumit tentang Pembelajaran

Senin, 03 Januari 2011
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran pada kakikatnya merupakan proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Selama proses pembelajaran, tugas guru yang lebih utama adalah mengkondisikan lingkungan belajar agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi siswa (Mulyasa, 2003). Sementara menurut Sagala (2006), pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau siswa.
Berdasarkan teori belajar ada lima pengertian pembelajaran, diantaranya sebagai berikut: 1) pembelajaran adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada siswa; 2) pembelajaran adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga sekolah; 3) pembelajaran adalah upaya mengorganisasikan lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi siswa; 4) pembelajaran adalah upaya untuk mempersiapkan siswa untuk menjadi warga masyarakat yang baik; 5) pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari (Hamalik, 1995). Sementara itu Dimyati, dkk (2002), menyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses yang diselenggarakan oleh guru untuk memberi pengalaman belajar kepada siswa mengenai cara memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Pembelajaran bertujuan mengembangkan potensi siswa secara optimal yang memungkinkan siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan dan bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Pembelajaran dipengaruhi oleh faktor kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan adanya interaksi antara guru dan siswa serta kemahiran guru dalam melaksanakan pembajaran (Wijaya,2000).
Pembelajaran yang dikaksanakan harus bertumpu pada enam pilar pendidikan universal seperti yang dirumuskan UNESCO. Menurut Suwarno (2006), enam pilar pembelajaran tersebut adalah learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu), learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), learning to live together (belajaruntuk menjalani hidup bersama), learning how to learn (belajar bagaimana cara mengembangkan potensi diri), dan learning throughout life (belajar terus menerus sepanjang masa). Pembelajaran mempunyai dua karakteristik utama: 1). Dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa untuk sekedar mendengar, mencatat akan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berfikir; 2). Dalam pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri (Sagala, 2006).
Salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan belajar yaitu dengan menggunakan pembelajaran aktif, siswa melakukan sebagian besar pekerjaan yang harus dilakukan. Disamping itu, siswa dapat menggunakan potensi otak untuk melakukan pekerjaannya, mengeluarkan ide atau gagasan, memecahkan masalah dan dapat menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif merupakan rangka cepat, menyenangkan, mendukung dan menarikhati dalam belajar untuk mempelajari sesuatu dengan baik. Belajar aktif membantu untuk mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentang pelajaran tertentu dan mendiskusikannya dengan yang lain. Dalam belajar aktif yang paling penting bagi siswa perlu memecahkan masalah sendiri, menemukan contoh-contoh, mencoba keterampilan-keterampilan dan mengerjakan tugas-tugas yang tergantung pada pengetahuan yang telah mereka miliki atau yang akan dicapai (Silberman, 2007).

B. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran merupakan salah satu unsur yang ikut membangun iklim kelas, termasuk minat siswa dan pencapaian hasil belajar, oleh karena itu guru harus memiliki kompetensi mengajar, paling tidak memiliki pemahaman dan penerapan secara taktis berbagai model belajar mengajar serta hubungannya dengan belajar selain kemampuan profesional lainnya yang menunjang.
Model pembelajaran mempunyai andil yang cukup besar salama proses pembelajaran. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa ditentukan oleh kerelevansian dalam penggunaan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sehingga tujuan pembelajaran akan dicapai dengan penggunaan model yang tepat, sesuai dengan standar keberhasilan dalam tujuan keberhasilan. Djamarah (2002) dalam proses pembelajaran, siswa mempunyai latar belakang yang berbeda-beda diantaranya: lingkungan sosial, lingkungan budaya, gaya belajar, keadaan ekonomi dan tingkat kecerdasan. Fakta tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun suatu strategi pembelajaran yang tepat (Gulo, 2005).
Lie (2008), menyatakan bahwa ada tiga pilihan model pembelajaran, yaitu kompetensi, individual, dan cooperative learning. Model pembelajaran cooperative learning adalah merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem “Pembelajaran gotong royong”. Dalam, sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator. Model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosidur model cooperative learning dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif.
Sementara Solihatin & Rohardjo (2007) mengertikan kooperatif sebagai bentuk kerja sama mencapai tujuan bersama. Cooperative learning merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata sehingga dalam bekerja secara bersama-sama diantara sesama anggota kelompok dapaya meningkatkan minat, produktivas, dan hasil belajar. Dalam kegiatan kooperatif, siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Sehingga belajar kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja sama untuk mengoptimalkan proses belajarnya.
Menurut Slavin (2008), pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa kekerja sama dengan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada siswa untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi nara sumber bagi teman yang lain untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Sehingga model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dari beberapa penjabaran tersebut cooperative learning merupakan suatu model pembelajaran yang sangat tepat untuk meningkatkan aktivitas siswa selama proses belajar mengajar. Model pembelajaran kooperatif juga dapat diartikan sebagai aktivitas bersama sejumlah siswa dalam satu kelompok tertentu untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama. Dalam belajar secara kooperatif siswa diharapkan untuk mendiskusikan materi pelajaran pada teman kelompoknya masing-masing.
Dalam kelompok belajar kooperatif anak tidak diperkenankan mendominasi atau menggantungkan diri pada anak lain, tiap anggota kelompok dituntut untuk memberikan urunan bagi keberhasilan kelompok karena nilai hasil belajar berkelompok ditentukan oleh rata-rata nilai hasil teman belajar individual. Oleh karena itu, tiap kelompok harus tahu teman yang memerlukan bantuan karena kegagalan seorang dapat mempengaruhi minat semua anggota kelompok. Penilaian terhadap minat individual yang berpengaruh terhadap minat kelompok inilah yang dimaksud dengan akutabilitas individual (Abdurrahman, 2002,).
Setelah jam pelajaran yang terjadwal dalam rencana pelajaran selesai, siswa dapat bekerja dalam kelompok-kelompok diskusi. Sehingga siswa mendapat kesempatan bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu tentang pelajaran yang baru saja diajarkan. Apabila seorang siswa memiliki pertanyaan, teman kelompoknya harus menjelaskan sebelum bertanya kepada guru, ketika siswa bekerja di dalam kelompok. Guru berkeliling diantara kelompok untuk mengamati kerja kelompok dan memberikan pujian kepada kelompok yang sedang bekerja dengan baik.

1. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Jonksen dalan Lie (2002). Bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning untuk mencapai hasil yang maksimal, ada lima unsur model pembelajaran gotong royong yang harus diterapkan adalah:
1. Saling ketergantungan positif
2. Tanggung jawab perseorangan
3. Tatap muka
4. Komunikasi antar anggota
5. Evaluasi proses kelompok
Ibrahim (2000: 6) menjelaskan unsur-unsur pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa sehidup sepenaggungan bersama.
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
c. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d. Siswa haruslah membagi tugas tanggung jawab yang sama antara anggota kelompoknya.
e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah atau penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama dalam proses belajar mengajar.
g. Siswa diminta pertanggungjawaban secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kelompok kemampuan tinggi, sedang, rendah.
c. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok dari individu.


3. Fase-fase Model Kembelajaran Kooperatif
Ada enam fase utama dalam pembelajaran kooperatif (Ibrahim, 2000)
Fase Tingkah laku guru
Fase 1:
Menyampaikan tujuan dan motifasi siswa. Guru menyampaikan semua tujuan yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan motivasi siswa belajar.
Fase 2:
Menyampaikan informasi. Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3:
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4:
Membimbing kelompok bekerja dan belajar. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5:
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempersentasikan hasil kerjanya.
Fase 6:
Memberikan penghargaan. Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Dari pendapat dan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar. Kesan negatif mengenai kegiatan bekerja atau belajar dalam kelompok juga bisa timbul karena adanya was-was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau keunikan pribadi karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok. Pada kooperatif terdapat unsur-unsur dasar yang akan membuat siswa aktif dalam kelompok kecil dan menuntut bersama siswa sehingga saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan dan hadiah untuk mencapai secara bersama-sama.
Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mengajarinya. Guru menetapkan suatu struktur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan semua prosedur, namun siswa di beri kebebasan dalam mengendalikan dari waktu pembelajaran kooperatif yaitu menghendaki syarat dan menjauhkan kesalahan tradisional, yaitu secara tepat mengelola tingkah laku siswa dalam kerja kelompok.
4. Keuntungan dan kelemahan kooperatif
a. Keuntungan pembelajaran kooperatif
Keuntungan pembelajaran kooperatif menurut Slavin dalam fatim (2006) adalah:
1) Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok.
2) Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk bersama-sama.
3) Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat (teori vygotsky).
4) Interaksi antar siswa juga membantu meningkatkan perkembangan kognitif yang non konservatif menjadi kreatif (teori Peaget).
a. Kelemahan pembelajaran kooperatif
1) Ditinjau dari sarana kelas. Maka untuk membentuk kelompok terjadi kesulitan mengatur dan mengangkat tempat duduk.
2) Karena rata-rata jumlah siswa di kelas adalah 30-35 orang, maka guru kurang maksimal dalam mengamati belajar kelompok secara bergantian.
3) Guru dituntut bekerja cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan pembelajaran yang telah dilakukan, antara lain koreksi kelas, pekerjaan siswa, menentukan nilai berkelompok dan menentukan perubahan kelompok belajar.
4) Menentukan waktu dan biaya yang relatif banyak untuk mempersiapkan dan kemudian melaksanakan pembelajaran kooperatif tersebut.

C. Model Cooperative Learning teknik TGT (Teams Games Tournament)
Teams Games Tournament (TGT) pada mulanya dikembangkan oleh David Devries dan Keith Edwards, ini merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Dalam metode ini, para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat sampai lima orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin dan latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya diadakan turnamen, dimana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. TGT menambahkan dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, memastikan telah terjadi tanggung jawab individual (Slavin, 2008).
Pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktifitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan para siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktifitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks di samping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar (Kirnawati, 2007).
Menurut Slavin, (2008) pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 komponen utama yaitu: persentasi di kelas, tim (kelompok), game (permainan), turnamen (pertandingan), dan rekognisi tim (penghargaan kelompok). Prosedur pelaksanaan TGT dimulai dari aktifitas guru dalam menyampaikan pelajaran, kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya diadakan turnamen, dimana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya.
Menurut Slavin (2008) bahwa langkah-langkah pembelajaran TGT terdiri dari siklus regular dari aktifitas pengajaran, sebagai berikut:
1. Persentasi kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, dan diskusi yang dipimpin guru. Di samping itu, guru juga menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa dan memberikan motivasi. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game/turnamen karena skor game/turnamen akan menentukan skor kelompok.
2. Belajar kelompok (Tim)
Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 orang yang anggotanya heterogen dilihat dari kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras atau etnik yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotivasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan. Pada saat pembelajaran, fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game/turnamen. Setelah guru menginformasikan materi dan tujuan pembelajaran, kelompok berdiskusi denagan menggunakan modul. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama,saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah menjawab. Penataan ruang kelas diatur sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.
3. Persiapan permainan (Game)
Guru mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi, bernomor 1 sampai 30. Kemudian guru mempersiapkan alat-alat untuk permainan, yaitu: kartu permainan yang dilengkapi nomor, skor, pertanyaan, dan jawaban mengenai materi.
4. Turnamen
Turnamen merupakan pelaksanaan dari game. Biasanya game dilakukan pada akhir minggu atau pada tiap unit, setelah melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Untuk turnamen, guru membagi siswa-siswa ke dalam meja-meja turnamen sesuai dengan kemampuannya, artinya dalam satu meja turnamen terdiri dari siswa yang dimiliki kemampuan homogen. Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 2.1

TEAMS A

A - 1 A - 2 A - 3 A – 4
T sd – 1 sd – 2 R





Meja Meja Meja Meja
Turnamen 1 Turnamen 2 Turnamen 3 Turnamen 4



TEAMS B TEAMS C

B – 1 B – 2 B – 3 B – 4 C – 1 C – 2 C – 3 C – 4
T Sd – 1 Sd – 2 R T Sd – 1 Sd – 2 R

Gambar 2.1 Bagan Penyusun Untuk Meja Turnamen ( Slavin: 1997)
Keterangan : T = Kemampun Tinggi
Sd-2 = Kemampuan Sedang 2
Sd-1 = Kemampuan Sedang 1
R = Kemampuan Rendah
5. Penghargaan Tim (Rekognisi Tim)
Penghargaan diberikan kepada tim yang menang atau mendapatkan skor tertinggi, skor tersebut pada akhirnya akan dijadikan sebagai tambahan nilai tugas siswa. Selain itu diberikan pula hadiah (reward) sebagai minat belajar. Adanya dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan dan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, diharapkan siswa dapat menikmati proses pembelajaran dengan situasi yang menyenankan dan termotivasi untuk belajar dengan giat yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat konsentrasi, kecepatan menyerap materi pelajaran, dan kematangan pemahaman terhadap sejumlah materi pelajaran sehingga hasil belajar mencapai optimal.
Muflihah (2004), dalam penelitiannya yang telah dilakukan menunjukkan bahwa metode TGT dapat meningkatkan hasil belajar dengan baik. Penerapan pembelajaran TGT dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran, membantu mengaktifkan kemampuan siswa untuk bersosialisasi dengan siswa lain. Siswa terbiasa bekerja sama dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar, sehingga hal ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. TGT merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang sangat bermanfaat bagi siswa. Adanya permainan dalam bentuk turnamen akademik yang dilaksanakan pada akhir pokok bahasan, memberikan peluang bagi setiap siswa untuk melakukan yang terbaik bagi kelompoknya, hal ini juga menuntut keaktifan dan partisipasi siswa pada proses pembelajaran. Dengan demikian akan terjadi suatu kompetisi atau pertarungan dalam hal akademik, setiap siswa berlomba-lomba untuk memperoleh hasil belajar yang optimal.

D. Sistem penskoran dalam TGT
Bagi masing-masing anggota dalam TGT pada saat turnamen berlangsung selain memiliki kesempatan untuk membaca soal dan menjawab soal juga memiliki kesempatan untuk menulis skor pada lembar skor turnamen yang telah disiapkan oleh guru. Penentuan skor dalam pelaksanaan lomba telah ditetapkan oleh guru. Lembar penilaian turnamen terdapat table di bawah ini:
Tabel 2.1 Lembar Penilaian Turnamen
Pemain Kelompok Jumlah kartu Poin turnamen





E. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki kelebihan dan kelemahan.
Menurut Surjana (2000) kelebihan pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah:
1. Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas.
2. Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu.
3. Dengan waktu yang sedikit, siswa dapat menguasai materi secara mendalam.
4. Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa.
5. Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain.
6. Motivasi belajar tinggi.
7. Hasil belajar tinggi.
8. Menaikkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.
Sedangkan kelemahan Kooperatif tipe TGT adalah :
1. Sulitnya mengelompokkan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademik.
2. Waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga siswa melewati waktu yang sudah ditentukan.
3. Masih ada siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan pada siswa yang lain.

F. Minat dan Hasil Belajar Biologi Siswa
1. Pengertian belajar
Usman (2002) mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Berkaitan dengan perubahan dalam belajar artinya seseorang setelah mengalami proses belajar, akan mengalami perubahan tingkah laku baik pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya.
Hamalik (2002) mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. Masalah pokok yang dihadapi dalam belajar adalah proses belajar tidak dapat diamati secara langsung dan kesulitan untuk menentukan kepada terjadinya perubahan tingkah laku tersebut hanya dapat diketahui bila telah mengadakan penilaian. Itulah sebabnya pengadilan dan pengontrolan proses belajar dapat dilakukan bila proses belajar tersebut direncanakan dalam desain sistem belajar yang cermat.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar, baik itu berupa pengetahuan, kecakapan, keterampilan dan perubahan tersebut dilakukan secara berkesinambungan.

2. Minat Belajar
(Natawijaya, 1978:94) apabila seseorang menaruh perhatian terhadap sesuatu. Maka minat akan menjadi motif yang kuat untuk berhubungan secara lebih aktif dengan sesuatu yang menerik minatnya. Minat akan semakin bertambah jika disalurkan dalam suatu kegiatan. Keterkaitan dengan kegiatan tersebut akan semakin menumbuh kembangkan minat. Sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Hurlock (1990:144) bahwa semakin sering minat diekspresikan dalam kegiatan maka semaking kuatlah ia. Minat dapat menjadi sebab perhatian secara tidak sengaja yang terakhir dengan penuh kemauan, rasa ketertarikan, keinginan , dan kesenangan.
Susanto (1978:9) memandang minat sebagai pemusatan perhatian yang tidak sengaja yang terakhir dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan lingkungan. Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan terjadilah suatu perubahan kelakuan. Perubahan ini meliputi seluruh pribadi siswa, baik kognitif, efektif, maupun psikomotorik. Untuk meningkatkan minat maka proses pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa yang ada di lingkungan secara kelompok.
Menurut Slameto (1991:182) minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tertentu, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya merupakan penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.
Minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa anak didik lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Anak didik yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung memberikan perhatian yang lebih besar terhadapnya.
(Dalyono, 1997:56) minat merupakan sesuatu modal besar untuk mencapai atau memperoleh tujuan tertentu apabila ada minat. Timbulnya minat belajar disebabkan berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi tinggi. Sebaliknya, minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi rendah.
Penerapan pembelajaran kooperatif ini dapat meningkatkan minat siswa. Beberapa studi menemukan bahwa siswa yang bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan suatu tujuan kelompok, mereka akan menunjukkan kemurahan hati mengerjakan apapun yang diperlukan untuk keberhasilan kelompok.

3. Hasil Belajar
Belajar dan mengajar sebagai aktivitas utama disekolah meliputi tiga unsur, yaitu tujuan pengajaran, pengalaman belajar mengajar dan hasil belajar. Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai siswa setelah mengalami proses belajar dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hasil belajar kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima proses belajarnya (Sudjana, 2006).
Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai seseorang setelah melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar ini merupakan penilaian yang dicapai seorang siswa untuk mengetahui pemahaman tentang bahan pelajaran atau materi yang diajarkan sehingga dapat dipahami siswa. Untuk dapat menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dilakukan usaha untuk menilai hasil belajar. Penilaian ini bertujuan untuk melihat kemauan peserta didik dan menguasai materi yang telah dipelajari dan ditetapkan (Arikunto, 2001).
Hasil belajar tampak sebagai perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan (Hamalik, 2003). Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulakan bahwa hasil belajar merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar, karena dapat menjadi petunjuk untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan seorang siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Dengan demikian jika pencapaian hasil belajar itu tinggi, dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajar itu berhasil.
Menurut Bloom dalam Sudjana (2006), ada tiga ranah (Domain) hasil belajar, yaitu : 1) ranah afektif, merupakan aspek yang berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat penerimaan atau penolakan terhadap suatu objek; 2) ranah Psikomotor, merupakan aspek yang berkaitan dengan kemampuan melakukan pekerjaan yang melibatkan anggota badan, kemampuan yang berkaitan dengan gerak fisik; 3) ranah kognitif, merupakan aspek yang berlaitan dengan kemampuan berfikir, kemampuan memperoleh pengetahuan, kemampuan yang berkaitan dengan perolehan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan dan penalaran.
Sardiman (2007), menyatakan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungnnya. Hasil belajar seseorang bergantung pada apa yang telah diketahui si subjek belajar, tujuan, minat yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang dipelajari. Sementara itu Usman (2003), menyatakan hasil belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hasil belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, antara lain :
1. Faktor yang berasal dari diri sendiri (Internal)
Faktor internal meliputi : a) faktor jasmaniah (Fisiologi), separti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna; b) faktor Psikologis, seperti kecerdasan, bakat, sikap, kebiasaan, minat kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri; serta c) faktor kematangan fisik maupun psikis.
2. Faktor yang berasal dari luar diri (Eksternal)
Faktor eksternal meliputi: a) faktor sosial, seperti lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan kelompok ; b) faktor budaya, seperti adapt iatiadat, Ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian; c) faktor lingkungan fisik, seprti fasilitas rumah dan fasilitas belajar; serta d) faktor lingkungan spiritual atau keagamaan.
Ibrahim, dkk (2000), menyatakan bahwa hasil-hasil penelitan menunjukkan bahwa teknik-teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman belajar individu atau kompetitif. Peningkatan belajar tidak bergantung pada usia siswa, mata pelajaran atau aktivitas belajar.

G. Tinjauan Konsep
Dalam penelitian ini kami mengambil pokok bahasan sistem pernafasan pada manusia menurut Suryono, dkk (2006) pernafasan adalah pengambilan dan penggunaan oksigen untuk pembakaran zat makanan dalam sel-sel tubuh serta pengeluaran zat sisa pembakaran (CO2 + uap air) pembakaran itu menghasilkan energi serta karbon dioksida alat pernafasan pada manusia adalah : Hidung, laring, pangkal tenggorokan, tenggorokan, batang tenggorokan, paru-paru dan alveolus.
Proses pernafasan di bedakan menjadi pernafasan dada dan pernafasan perut. Pada pernafasan dada, bila otot-otot antar tulang rusuk luar mengerut tulang rusuk akan terangkat dan volume rongga dada membesar sehingga tekanan udara di dalam rongga dada menjadi lebih kecil dari pada tekanan udara luar. Pernafasan perut, bila otot diafragma mengerut, diafragma mendatar, dan volume rongga dada menjadi besar, sehingga tekanan udara dan volume rongga dada menjadi lebih besar, sehingga tekanan udara di dalam rongga dada menjadi lebih besar, sehingga tekanan udara di dalam rongga dada lebih kecil dari pada yang di luar. Kedua proses pernafasan tersebut disebut inspirasi.
Pernafasan dada, bila otot-otot antar tulang rusuk dalam mengerut, tulang rusuk akan tertekan dan volume rongga dada mengecil sehingga, tekanan udara di dalam rongga dada menjadi lebih besar dari pada tekanan udara luar, pernafasan perut, bila otot dinding rongga mengerut, otot-otot dalam rongga perut akan terdorong ke atas, diafragma naik, dan volume rongga dada menjadi lebih kecil,sehingga tekanan udara di dalam rongga dada lebih kecil dari pada yang di luar. Kedua proses pernafasan tersebut disebut ekspirasi.

H. Kerangka Pemikiran
Pembelajaran merupakan kegiatan yang bertujuan secara sistematis dan terarah pada terjadinya proses belajar. Metode ceramah sering dipandang sudah biasa bahkan cenderung membuat siswa merasa bosan dalam mengikuti proses pembelajaran, hal ini berdampak pada siswa terutama dalam hal keaktifan dimana siswa menjadi pasif. Oleh karena itu, perlu adanya penggunaan metode-metode pembelajaran yang dapat menjadikan siswa menjadi lebih aktif dan kreatif. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi dan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki prose pembelajaran terdapat dalam model pembelajaran kooperatif yang melibatkan seluruh siswa untuk bekerja sama secara aktif dalam proses pembelajaran. Strategi pembelajarannya yang terstruktur dan sistematis dapat digunakan pada berbagai jenjang pendidikan dan hampir pada semua materi. TGT (Teams-Games-Tournament) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang melibatkan seluruh siswa dari awal hingga akhir kegiatan pembelajaran. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bekerja sama membagi ide-ide dengan cara berdiskusi mengenai materi pelajaran sampai semua anggota tim memahami materi pelajaran tersebut sebagai persiapan game/turnamen. Dengan aplikasi model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams-Games-Tournament), diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa yang bisa diukur dalam dua aspek, yaitu kognitif dan afektif.

0 komentar:

Poskan Komentar