DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

BERIKUT TEKS SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928

Jumat, 08 Juli 2011
Sekedar merefleksikan sejarah yang menjadi tonggak perjuangan bangsa Indonesia, saya posting Naskah Sumpah Pemuda untuk kembali mengingat kebesaran perjuangan para pemuda saat itu, dan dapat menjadi contoh kepada kita semua para Blogger Indonesia.


BUNYI TEKS SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Teks sumpah pemuda ini dibacakan saat Kongres Pemuda Kedua. Kongres pemuda ini kedua ini digagas oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI),sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Pada saat itu diperdengarkan pula lagu Indonesia Raya tanpa syair oleh Wage Rudolf Supratman.


Mengingat Kembali Rapat Kongres Pemuda II

(Noted from wikipedia)
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Kongrespemuda2 Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

0 komentar:

Poskan Komentar