DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Lihat Makam Sunan Bayar Rp 1 Juta

Sabtu, 16 Juli 2011

Makam Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah di Cirebon memang menjadi kunjungan wisata religi sangat menarik. Apalagi, sebagai salah satu anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati memiliki peran penting dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Menjelang bulan Ramadhan, peziarah mengalami lonjakan luar biasa. Bahkan, tempat parkir yang luas di Desa Astana, tempat makam tersebut, bisa penuh selama 24 jam per hari. Ketika tim Gowes Jurnalistik: Pantau Jalur Mudik 2011 dari Kompas.com mengunjungi makam itu, pengunjung datang dari berbagai daerah pada Juli 2011 ini. Bahkan, ada satu rombongan yang datang dari Papua untuk berziarah.

Sayang, pengunjung sering merasa tak nyaman. Begitu turun dari mobil atau bus, mereka sudah didatangi orang-orang yang mengaku sebagai guide. Dia siap mengantar pengunjung dengan merayu-rayu halus, seolah pengunjung tak bisa apa-apa jika masuk kompleks makam tanpa bantuannya.

Mendekati pintu gerbang makam, maka pengunjung langsung diserbu anak-anak yang meminta uang. Mereka juga sering memaksa, bahkan menarik-narik baju.

Setelah itu, beberapa orang dewasa berdiri membawa kotak di jalur menuju makam. Mereka meminta sumbangan dengan cara menggertak. "Kasih uang dulu di sini!" begitu trik mereka, seolah-olah memberi uang mereka adalah kewajiban. Padahal, tak ada instruksi dari instansi mana pun.

Begitu banyak orang yang meminta, sehingga pengunjung sering merasa tak nyaman atau terganggu. Mereka terkadang merentangkan tangan untuk menghalangi pengunjung masuk sebelum memberikan uang.

Baru setelah itu, pengunjung bisa masuk dan berdoa di kompleks makam. Namun, mereka hanya bisa sampai di depan pintu menuju makam Sunan Gunung Jati.

Bisakah masuk ke makam Sunan Gunung Jati?

Para guide menjamin bisa. Mereka akan membawa pengunjung ke bekel atau ketua makam. Kompas.com juga dibawa seorang guide, Hadi, menghadap bekel. Di sana, sudah ada beberapa ibu-ibu. Kami pun berbicara banyak hal soal sejarah.

Kemudian, Pak Huri, bekel makam itu, menawarkan akan memberi akses ke makam Sunan kepada kami, juga beberapa ibu-ibu.

"Untuk masuk makam Sunan, harus ada izin dari Sultan Cirebon. Saya bisa mewakilinya. Ya, tentu ada mahar. Itu untuk pemeliharaan makam dan disetor ke keraton," kata Huri.

Kami pun bertanya kepadanya, kira-kira berapa maharnya. "Oh, itu terserah Anda, seikhlasnya," jawabnya.

Kami menegaskan lagi, biasanya orang-orang bayar berapa. Dia kembali menjawab, "Biasanya membayar Rp 1 juta, tapi ada juga yang bayar Rp 300 ribu. Malah, ada juga yang membayar Rp 3 juta," terangnya.

Seorang anggota Satgas (sekuriti) yang tak mau disebut namanya mengatakan, mahar memang sudah menjadi semacam kewajiban untuk bisa masuk ke makam utama Sunan Gunung Jati. Sebab, makam ini butuh perawatan.

Namun soal warga yang meminta-minta di depan kompleks makam, katanya, sebenarnya sudah dilarang. Ia bertugas menertibkan hal itu, namun kesulitan.

"Kadang kami malah dimusuhi warga kalau menertibkan para peminta. Mereka pernah ditangkap polisi untuk dibina, namun selang seminggu kemudian para peminta berjubel kembali. Sekarang, saya hanya bisa menjaga agar mereka tak masuk kompleks makam saja," ujarnya.

Terlepas dari itu, mengunjungi makam Sunan Gunung Jati memang cukup menarik. Selain arealnya luas, makam ini punya sejarah besar. Setidaknya, kita bisa mengingat kembali perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam dan melawan kehadiran kolonialisme Eropa.

Hanya, tetap butuh tips. Jika tak membutuhkan guide, pengunjung bisa langsung menolaknya dari awal. Bisa saja dibilang bahwa kita sudah biasa masuk tanpa guide.

Kemudian, jika di perjalanan dikerubuti anak-anak yang meminta uang, bisa langsung ditolak dan tetap terus berjalan. Kalaupun tak mau memberikan sumbangan kepada orang-orang dewasa yang juga mencegat, kita bisa langsung melewatu mereka, tanpa menggubris gertakannya. Sebab, toh mereka hanya sebatas menggertak sambil terkadang menggebrak meja.

"Kalau tak mau kasih sumbangan kepada mereka, diacuhkan saja. Jangan lihat mereka dan langsung terus berjalan masuk kompleks makam," kata Satgas tersebut. KOMPAS.com

0 komentar:

Poskan Komentar