DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Agama dan Pelacur .....??

Sabtu, 02 Juli 2011
“…Aku juga salat, Mas. Tetapi masih kadangkadang.Aku lakukan itu setelah melayani tamu. Aku segera ganti pakaianku yang serba mini ini. Bagaimana dengan nilai salatku, Allah yang tahu.Allah maha adil…”. Faiq Nuraini - Surabaya

Demikian salah satu pengakuan Wiwit, seorang pelacur asal Jember yang saat ini menjadi penghuni salah satu lokalisasi di Surabaya. Pekerja seks yang dibesarkan dari keluarga agamis di Ambulu, Jember ini ternyata juga menunaikan ibadah puasa Ramadan, sebagaimana yang lazim dilakukan umat Islam lainnya.

“Yang jelas puasaku penuh. Aku juga tadarus. Insya Allah, ini bagian dari tobat dari apa yang telah aku lakukan selama ini. Astaghfirullah,” ucap Wiwit dengan fasih.

Pelacur dan Tuhan, inilah realitas dua sisi kehidupan yang kerap tak pernah bisa diterima. Hubungan manusia dengan Tuhan ternyata juga menjadi kebutuhan bagi mereka yang selama ini dianggap jauh dari nilai-nilai moralitas.

Kehidupan spiritual yang bersifat pribadi, antara manusia sebagai hamba dengan sang pencipta juga menjadi sesuatu yang dirasakan penting bagi kehidupan pelacur. Tak heran bila di antara mereka ada juga yang kerap menyisihkan hartanya untuk berzakat, ikut membangun masjid, memberi sedekah pada pengemis, atau mengkuti pengajian.

“Saya harus menyediakan waktu tidak sampai jam dua malam saat puasa untuk persiapan sahur. Biasanya saat pertengahan Ramadan saya juga borong jilbab untuk keponakan,” cerita Lilis, pelacur lain di Dolly asal Wajak, Kabupaten Malang.

Beberapa pengakuan di atas adalah petikan dari buku karya Prof Nur Syam yang ditulis bersama timnya. Buku berjudul Agama Pelacur ini mencoba menguak sisi lain realitas kehidupan para wanita pekerja seks di lokalisasi.

Lewat buku itu, guru besar sekaligus rektor IAIN Surabaya ini menyuguhkan gambaran nyata kehidupan seorang pelacur. Meski sebagian orang menganggap bahwa mereka adalah manusia yang hidup di lembah nista, namun Nur Syam menemukan Tuhan dalam kehidupan mereka.

Buku ini menyuguhkan realita bahwa pelacur tidak selamanya penuh dosa. “Hakikatnya, pelacur juga manusia pada umumnya. Tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi juga memerlukan kebutuhan sosial, kasih sayang, dan rasa ketuhanan,” ungkapnya.

Mereka wujudkan itu semua dalam bentuk pengakuan dan aktualisasi seperti keimanan, ritual, doa, dan harapan. Menjadi pelacur bukanlah tindakan yang diinginkan oleh siapapun, termasuk pelacur sendiri. Banyak faktor dan penyebab mengapa mereka menjerumuskan diri ke lembah pelacuran. Tekanan ekonomi, sosial, dan pengalaman rumah tangga yang hancur biasanya menjadi faktor penentu.

Simaklah pengakuan pelacur bernama Yuli ini. Perempuan berusia 30 tahun ini dibesarkan di keluarga yang taat di Kota Santri, Jombang. Namun, tekanan ekonomi telah memaksanya menempuh jalan hidup lain.

Yuli yang hanya mampu menamatkan madrasah tsanawiyah (MTs), sempat mondok di sebuah ponpes di Kediri. Karena impitan ekonomi pula, ia hanya mampu bertahan enam bulan. Yuli kemudian dijodohkan hingga anak pertama pun dari perkawinannya dengan pemuda pilihan orangtuanya. Namun, perempuan itu mendapat cobaan berat, karena suaminya pergi bersama perempuan lain, dari satu desa.

Hidupnya hancur. Sementara usia anaknya sudah TK dan Yuli harus menghidupi sendiri. Sampai suatu ketika, perubahan itu datang. Ibu muda ini diajak ke Kalimantan oleh temannya. Ia dijanjikan menjadi pramusaji di sebuah restoran, namun yang diterima, ia malah menjadi PSK.

“Bapak ibu tidak tahu kalau aku jadi PSK. Ini semua demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Hatiku bergolak antara melanggar agama Allah dengan tuntutan ekonomi. Menjadi pelacur tentu bukan sepenuhnya keinginanku,” kata Yuli.

Dua tahun di Kalimantan hidup berpindah-pindah dari satu lokalisasi ke lokalisasi lainnya, hanya untuk menjadi pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Pernah suatu ketika ia ingin berhenti dari pekerjaan tersebut dengan meminta pertolongan Tuhan.

Tapi, karena harus menghidupi keluarga, Yuli pun tak mampu. Ia kemudian pindah ke Surabaya. Di sinilah, Yuli merasa sebagai manusia perlu kehadiran Tuhan.

Selama satu tahun menjadi pelacur, dia ingin menjadi manusia yang baik. Sebuah yayasan yatim piatu di kawasan Surabaya Barat menjadi tempatnya memuaskan dahaga akan kerinduannya kepada Tuhan.

“Setiap bulan saya memberikan sedekah. Ini mengikuti ajaran Rasulullah. Saya tidak tahu saya masuk golongan manusia apa,” ucapnya. - Surya.co.id

0 komentar:

Poskan Komentar