DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Jalan Pedang Barcelona

Jumat, 03 Juni 2011

Ketika bertarung, seseorang lebih mengandalkan intuisi ketimbang pikiran. Intuisi orang yang berlatih bela diri akan berbeda dari yang tidak berlatih. Pada level tertentu, orang akan bertarung dengan kesadaran, di mana pikiran dan intuisi menjadi satu. Tak ada satu gerakan pun yang tidak dikendalikan atau disadari pikiran.

Dalam kisah karangan Eijhi Yoshikawa berjudul Musashi, diceritakan seseorang yang menempuh jalan pedang dengan tujuan mencapai level "tanpa pedang". Orang pada tahap ini bisa tahu apa yang akan dilakukan lawan dari tarikan napas, cara berdiri, pergeseran kaki, atau gerakan kecil lainnya dan di saat yang sama tahu cara mengantisipasinya. Orang pada tahap ini nyaris tak bisa salah sehingga kemenangan bukan lagi tujuan, melainkan konsekuensi.

Bagi orang yang tidak terlatih, melumpuhkan lawan tak selalu menjadi perkara mudah. Namun, bagi orang yang terlatih hal serumit apa pun tampak sederhana dan menakjubkan bagi orang yang melihatnya, sama seperti ketika orang melihat Barcelona bermain bola.

Latihan membuat Xavi bisa menjaga ketenangan saraf-sarafnya selama 90 menit untuk, dalam waktu yang nyaris bersamaan, bergerak menggiring bola melewati lawan, menentukan titik melepas umpan, kepada siapa umpan harus diarahkan, dan bagaimana memosisikan kakinya supaya bola dikuasai temannya

Pada pertandingan final Liga Champions melawan Manchester United, yang dimenangkan Barcelona 3-1, di Stadion Wembley, 28 Mei lalu, Xavi bermain sejak awal sampai akhir. Menurut catatan BBC, ia berlari sejauh 12 kilometer dan dari 155 umpan yang dilepasnya, hanya tujuh yang meleset. Sebanyak 97 persen umpannya dilepas dari jarak kurang dari 32 meter dari target. Bandingkan dengan Michael Carrick hanya sukses melepas 17 umpan dari 29 kali usaha.

Alur umpan kepada Lionel Messi juga bisa menjadi contoh bagaimana terintegrasinya pemain-pemain dengan tim ketimbang MU. Sementara umpan kepada Rooney cenderung ke sisi kiri penyerangan, umpan kepada Messi nyaris tak punya kecenderungan.

Xavi dan Messi tak bisa melakukan semua itu tanpa dukungan rekan-rekannya. Mereka bisa mengimbangi Xavi dan Messi juga dengan latihan. Dengan tingkat dan bentuk keterampilan berbeda, mereka seolah-olah berpikir dengan satu kepala dan bergerak dengan badan yang sama, dan dengan begitu menjaga harmoni dan integrasi.

Dalam sejumlah kesempatan, pelatih Pep Guardiola mengatakan bahwa apa yang diraih timnya saat ini telah dirintis oleh banyak orang sejak lama secara terus menerus, sejak Johan Cruyff sampai Frank Rijkaard, karena sama seperti Musashi, Barcelona mencapai level sekarang ini berkat latihan terus-menerus, setidaknya, sejak mereka di La Masia.

Menurut BBC, di Barcelona, latihan dasar yang diberikan kepada pemain berusia enam tahun sama dengan yang diberikan kepada pemain utama. Sejak awal pula, pemain dikenalkan dan terus dicekoki filosofi bermain Barcelona sampai itu menjadi kesadaran dan etos bekerja mereka, yaitu kemenangan bukan tujuan, melainkan bonus yang akan mereka terima jika bermain indah. Pep pernah mengatakan, bahwa Barcelona tak tahu cara bermain selain yang mereka mainkan dan tidak akan mengubahnya.

Jika level permainan sekarang ini diraih melalui proses yang begitu panjang, Barcelona akan sulit menemukan musuh tangguh karena, terlepas dari faktor usia, Barcelona generasi ini akan terus mendekati kesempurnaan, meninggalkan lawan-lawan yang baru berpikir untuk memulai.

Meminjam kata-kata Franco Baresi, Barcelona sulit menemukan lawan sepadan sampai generasi saat ini pensiun atau penilaian manajer MU Alex Ferguson yaitu Barcelona adalah "tantangan untuk semua, bukan cuma Manchester United." KOMPAS.com

0 komentar:

Poskan Komentar