DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Siapa Mr A yang Dituding Hancurkan Demokrat?

Kamis, 02 Juni 2011

Demokrat menggulirkan sebuah inisial, Mr A, yang disebut sebagai politikus yang mempunyai keinginan untuk menghancurkan Demokrat. Mr A dituding berada di balik kekisruhan yang melingkupi Demokrat. Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan menyebutkan, Mr A adalah seorang politikus lama, tetapi merupakan orang baru dalam isu-isu politik belakangan ini. Siapakah dia?

“Bukan menggoyang lho, tapi menghancurkan Partai Demokrat. Mr A itu seorang politisi. Dia itu orang lama tapi baru. Baru dalam pengertian enggak nyangka kita bahwa ternyata dia menyimpan kebencian, menyimpan hasrat ingin menghancurkan Partai Demokrat dan SBY sendiri," kata Ramadhan, di Gedung DPR, Rabu lalu.

Tak ada seorang elite Demokrat yang mau menyebutkan secara gamblang, siapa politikus dan kekuatan politik yang disinyalir menyerang partai bentukan Susilo Bambang Yudhoyono itu. Tudingan adanya kekuatan di luar Demokrat di balik kekisruhan yang menerpa partai tersebut sudah dilontarkan Ketua DPP Partai Demokrat Kastorius Sinaga kepada Kompas.com, Minggu (29/5/2011). Bahkan, menurut Kastorius, pihaknya sudah memetakan siapa saja yang memiiki skenario penghancuran partainya dan pola serangan yang dilancarkan.

"Yang jelas, mereka adalah lawan politik yang ingin menyerang tidak dalam satu wujud, tetapi punya tujuan yang sama menjadikan Demokrat dan SBY sebagai common enemy. Kami waspada menghadapinya. Mereka ingin Demokrat tidak dipercaya dan kader-kadernya tidak punya modal sosial politik lagi," tutur Kastorius.

Para lawan politik ini dinilai memanfaatkan momentum kasus dugaan suap yang melibatkan mantan Bendahara Umum M Nazaruddin untuk melancarkan serangan yang merugikan dan mendiskreditkan Demokrat.

Mencari kambing hitam?

Pengamat politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit, berpendapat, tuduhan yang dilayangkan Demokrat merupakan hal klasik yang dilakukan para politikus. Ia menilai tudingan dengan melemparkan inisial "Mr A" cenderung sebagai upaya pengambinghitaman.

"Aksi klasik yang selalu dilakukan para politikus dengan mencari orang lain yang dijadikan kambing hitam untuk kesalahan sendiri. Mengalihkan kesalahan ke orang lain. Enggak ada gunanya," kata Arbi saat dihubungi Kompas.com, Jumat (3/6/2011).

Menurutnya, tudingan ini menunjukkan bahwa Demokrat tak berhitung. Isu antarelite ini menyentuh masyarakat kalangan menengah atas yang tak gampang dialihkan dengan aksi-aksi klasik seperti yang diakukan. "Orang bisa menilai mana yang benar, mana yang tidak. Tidak segampang itu dibodohi," tegasnya.

Kendati demikian, Arbi melihat, dalam politik, selalu ada lawan politik yang memanfaatkan situasi untuk menyudutkan lawannya. "Dalam pertarungan antarelite, ada pihak yang akan mengambil keuntungan dari kelemahan lawan, ada yang memanfaatkan kelemahan lawan. Itu mungkin saja. Tetapi, bukan lantas dijadikan kambing hitam. Karena di internal pun ada persoalan," kata Arbi. KOMPAS.com

0 komentar:

Poskan Komentar