DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Umar Patek Bisa Ungkap Jaringan Teror Dunia

Kamis, 11 Agustus 2011

Di saat masyarakat Indonesia menunggu kepulangan Muhammad Nazaruddin dari Kolombia, tanpa terduga, buron teroris internasional, umar Patek lebih dulu pulang. Tersangka kasus Bom Bali I itu tiba di Jakarta, Kamis 11 Agustus 2011, setelah menjalani penahanan selama enam bulan di Pakistan.

Kepulangan Patek disambut baik Wakil Ketua Komisi I DPR Bidang Pertahanan, TB Hasanuddin. "Dengan pengembalian Umar Patek dari Pakistan sesungguhnya merupakan kesempatan emas untuk pemerintah Indonesia dalam hal ini BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) untuk mendapatkan manfaat darinya," kata dia, Jumat 12 Agustus 2011.

Menurut TB Hasanuddin, asal aparat Indonesia mampu mengoreknya, Umar Patek merupakan sumber informasi yang sangat berharga. "Dia pasti tahu jaringan-jaringan teroris di dunia, kemampuan mereka, sistem pelatihan, rekruitmen dan rencana-rencama operasinya," tambah dia. Patek juga bisa membongkar jaringan lama teror di Indonesia yang bermetamorfosa menjadi sel-sel baru.

Namun, tambah dia, di sisi lain kepulangan Patek juga berisiko. "Aparat harus lebih waspada terhadap serangan balasan teroris karena tertangkapnya Umar Patek."

Sebelumnya, Kepala BNPT, Ansyaad Mbai mengatakan, Patek telah mengakui beberapa aksinya di mancanegara, termasuk keterlibatannya dalam pengeboman sejumlah tempat di tanah air. "Ya teroris, aksi pemboman itu. Bom Bali, Bom Bali 1, dan sebelumnya bom Natal," kata Ansyaad, Kamis kemarin.

Namun, tambah dia, Umar Patek tidak terlibat dalam aktivitas pelatihan militer teroris di Pegunungan Jalin, Jantho, Aceh.

Sementara, Kepolisian RI memperketat keamanan di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan polisi untuk mewaspadai terjadinya balas dendam oleh pendukung Umar Patek.

"Maka itu kami sudah siapkan pengamanan yang ketat karena Umar Patek tokoh teroris. Kelasnya tinggi maka itu kita selalu siap waspada," kata Juru Bicara Polri, Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam, di Mabes Polri Jakarta, 11 Agustus 2011. VIVAnews

0 komentar:

Poskan Komentar