DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Inilah Negeri Para Celeng

Senin, 30 Mei 2011

Oleh Sindhunata

Pada awalnya, lembaran itu hanyalah sebuah lukisan. Lukisan yang berjudul ”Berburu Celeng” karya perupa Djoko Pekik. Ternyata lukisan itu kemudian menjadi bagaikan ramalan yang memfaalkan karut-marut dan kecemasan bangsa pada zaman sekarang.

Lukisan itu dibuat setelah kejatuhan Orde Baru. Konteksnya fajar merekahnya era reformasi. Digambarkan di sana tertangkapnya seekor celeng raksasa. Dengan badan yang terbalik, celeng itu diikat pada sebilah bambu yang digotong dua lelaki busung lapar. Kerumunan rakyat menyambut tertangkapnya celeng itu dengan pesta ria dan sukacita. Menyambut lukisan tersebut, penulis mengeluarkan sebuah buku berjudul Tak Enteni Keplokmu, Tanpa Bunga dan Telegram Duka (1999). Seperti halnya rakyat waktu itu, penulis juga diliputi euforia reformasi. Toh, terpengaruh oleh kecemasan si pelukis, penulis bertanya: ”Celeng dhegleng sudah tertangkap, tapi mengapa di depan semuanya tambah gelap?”

Maklum, celeng yang tertangkap rakyat sesungguhnya bukanlah binatang celeng, melainkan celeng jadi-jadian. Memang dalam masyarakat Jawa ada yang namanya pesugihan babi ngepet atau bagong liyer atau celeng gontheng. Seperti halnya kodhok ijo, kandhang bubrah, atau Nyai Blorong, pesugihan babi ngepet adalah sejenis upaya menumpuk kekayaan dengan cara menyerahkan diri kepada setan. Sebagai imbalan penyerahan diri, pemilik pesugihan akan dibantu kekuatan jahat memperoleh kekayaan dunia tanpa batas.

Dengan pesugihan babi ngepet atau celeng gontheng, orang dapat mengubah dirinya menjadi celeng. Ia dapat berkeliaran ke mana-mana, mencuri dan mengeruk barang, harta, atau kekayaan tanpa diketahui siapa pun. Ia bisa mengeduk apa saja, jagung, padi, ketela, dan palawija lain, lalu membawanya pulang ke rumah untuk dijadikan makanan berlimpah bagi dirinya sendiri dan sanak keluarga.

Celeng gontheng memang sangat rakus. Di desa-desa, celeng gontheng dikenal suka mendatangi orang yang sedang punya hajatan. Maklum, di sana ada banyak uang atau barang hasil hajatan. Dengan mudah, celeng gontheng itu menyedot semuanya. Karena itu dulu, jika sedang punya hajatan, orang suka menutup got atau peceren saluran air dan kotoran. Sebab, biasanya di sana celeng gontheng menunggu, lalu menyedot semua lewat saluran itu.

Sangat sulit menangkap celeng jadi-jadian. Katanya, di rumah, istri si pemilik pesugihan senantiasa berjaga ketika suaminya merampok harta orang lain dengan menjelma menjadi celeng. Si istri berjaga, jangan sampai senthir di hadapannya mati. Kalau senthir mati atau kebat-kebit, berarti suaminya tertangkap dan mati atau dalam bahaya. Sebaliknya, asal ia bisa menjaga agar senthir itu tidak mati, suaminya akan selamat dan bisa membawa banyak harta pulang ke rumah.

Masih gelap

”Berburu Celeng” dilukis ketika masyarakat si pelukis baru saja keluar dari krisis. Dan, ke depan, belum ada jaminan bahwa akan sirnalah semua krisis. Malah si pelukis berkata, ”Ngarep isih peteng ndhedhet, Mas (Ke depan masih gelap gulita, Mas)”. Kiranya dengan memakai celeng jadi-jadian sebagai idiom lukisan, si pelukis hendak mengingatkan, krisis yang telah dan akan terjadi bukan berkenaan dengan masalah politik, ekonomi, atau sosial. Lebih dari itu, krisis itu akibat dari...........(selengkapnya baca Harian Kompas, Selasa 31 Mei 2011, halaman 6)

0 komentar:

Poskan Komentar