DAPATKAN UANG CUMA-CUMA DISINI ..!

Al Chaidar: Al Zaytun Dibiayai Jamaah, Bukan Soeharto

Senin, 09 Mei 2011
JAKARTA - Amir Jamaah Anshorut Tauhid Abu Bakar Baasyir mengaku pernah mendengar Ma’had Al Zaytun dibiayai oleh mantan Presiden Soeharto dan mantan Kepala Badan Intelijen Negara Hendropriyono. Namun, keterangan Baasyir diragukan Al Chaidar, pengamat terorisme yang juga mantan anggota Negara Islam Indonesia dan lama meneliti organisasi tersebut.

“Saya kira Ustadz Abu salah ingat,” katanya kepada okezone, Senin (9/5/2011).

Chaidar menceritakan Al Zaytun baru berdiri tahun 1994 dan sebenarnya tidak pernah menimbulkan masalah sampai NII Komandemen Wilayah 9 (KW 9) diambilalih kepemimpinannya oleh Panji Gumilang pada tahun 1992. Sebelumnya KW9 dikendalikan Abu Karim.

Menurut Chaidar, NII KW 9 di bawah Panji Gumilang sebenarnya faksi palsu yang merekrut banyak orang untuk kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik. Dari sisi ekonomi, anggotanya diperas habis-habisan dengan dalih zakat, infak dan lain sebagainya sementara dari sisi politisnya para anggota disuruh berdakwah total bahkan bila perlu meninggalkan sekolah, kuliah dan kedua orangtua.

Tujuannya, kata Chaidar, justru untuk mendiskreditkan faksi NII yang sebenarnya. Karena ketika anggota NII KW 9 pada akhirnya sadar telah diperas dan dimanfaatkan, mereka akan keluar dari organisasi tersebut dan trauma begitu mendengar nama NII.

“Pada akhirnya begitu mendengar nama negara islam dia jadi ketakutan, trauma, dan kapok, jera dengan proses ini. Al Zaytun itu dibiayai jamaah NII palsu yang direkrut Panji Gumilang,” ujarnya.

Dalam proses ini, kata Chaidar, Panji Gumilang mendapat sokongan pemerintah yang berkepentingan membendung gerakan NII asli.

“Pemerintah harus melakukan hal-hal demikian karena dikhawatirkan kalau orang pada ikut ideologi NII, akhirnya Pancasila kehilangan penonton. Ini hanya persaingan panggung NII palsu dan NII asli,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan Hendropriyono tidak terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan deradikalisasi ataupun deteksi kegiatan NII pada masa Presiden Soeharto. Hendropriyono baru terlibat setelah menjabat Kepala BIN pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri periode 2001-2004 (okezone)

0 komentar:

Poskan Komentar